Showing posts with label obyek wisata di demak. Show all posts
Showing posts with label obyek wisata di demak. Show all posts

Tuesday, June 27, 2017

Simpang Enam Demak, Wisata Yang Lagi Ngehits di Demak

Alun alun Depan Masjid Agung Demak Menjadi Simpang Enam Demak
Simpang Enam Demak adalah salah satu lokasi yang menjadi tujuan para pecinta suasana romantis, maka dari itulah tempat ini selalu penuh di kunjungi oleh pemuda pemudi yang ingin menghabiskan waktu libur bersama teman dan keluarga dan bahkan alun alun kepunyaan demak ini sudah menjadi ikon bagi kota wali tersebut.
Kemudahan akses menuju tempat ini serta banyaknya souvenir yang di jajakan serta berbagai tempat kuliner di sekitar kawasan alun alun membuat Simpang Enam Demak menjadi tempat wisata yang banyak di datangi oleh pemuda pemudi serta keberadaannya di jantung kota atau pusat keramaian di kota Demak membuat lokasi ini semakin banyak di gemari masyarakat.
Di Simpang Enam Demak ini berada di lapangan besar yang sangat strategis, saat senja mulai datang saat itulah tempat alun alun Simpang Enam ini mulai tampak ramai di kunjungi oleh masyarakat sekitar untuk menghabiskan waktu malam bersama kekasih, keindahan alun alun Simpang Enam Demak ini akan sangat terlihat ketika malam tiba, suasana romantis nya membuat semua pengunjung terbuai di padu dengan lampu lampu yang menghiasi pinggir jalan pantura yang berlafadhkan asmaul husna (nama nama Allah yang berjumlah 99) menjadikan alun alun ini semakin tampak menawan.

Bukan hanya ramai di kunjungi warga sekitar untuk menghabiskan malam minggu dan hari libur, tetapi alun alun Simpang Enam Demak juga ternyata sering dijadikan tempat berlangsungnya kegiatan islami seperti pengajian akbar HAUL Raden Fatah, Istighosah dan lain lain sebagainya.
Keberadaanya yang berada di pusat kota demak membuat lokasi ini semakin ramai pengunjung, di tambah lagi keberadaanya pas di depan Masjid Agung Demak yang melegenda sampai Nusantara, serta dekat dengan makam dari pemimpin pertama kerajaan Demak Bintoro membuat alun alun ini semakin banyak di kunjungi wisatawan.
Masjid Agung Demak
Sejarah mencatatkan bahwa alun alun ini berada di depan masjid agung yang merupakan pusat kota Demak dan masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para wali yang juga disebut wali songo. Dibangun pada masa kekuasaan Raden Fatah pada abad ke-15, secara politik masjid agung ini menjadi pusat pemerintahan pada waktu itu, mulai dari ibadah, mengatur strategi perang bahkan sampai hal belajar mengajar.
Secara arsitekturalnya, Masjid Agung Demak memiliki ukuran dan ciri khas seperti yang di miliki kerajaan Majapahit, dan juga memiliki keunikan tersendiri. Sedikitnya ada empat keunikan Masjid Agung Demak, yakni sebagai berikut:
1. Saka Tatal
2. Atap Berundak Tiga
3. Lawang Bledeg
4. Kolam Wudlu
Museum Masjid Agung
Museum Masjid Agung Demak adalah sebuah museum yang terletak di dalam kompleks Masjid Agung Demak, terdapat di lingkungan alun-alun kota Demak. Museum ini buka tiap hari mulai dari hari Senin hingga Minggu pada jam kerja. Museum ini menyimpan berbagai barang peninggalan Masjid Agung Demak. Jumlah koleksi benda bersejarah di museum ini mencapai lebih dari 60 koleksi benda-benda bersejarah Masjid Agung Demak, bahkan benda zaman Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Demak Bintoro.
Kuliner dan Souvenir di Simpang Enam Demak
Untuk urusan perut ketika berada di lokasi Simpang Enam Demak ini anda dan keluarga tidak usah khawatir karena semua jajanan berbentuk apapun baik yang berjenis makanan ringan maupun makanan berat semua tersedia di lokasi ini.
Keramaian Simpang Enam Demak ini dapat anda temui ketika malam hari terutama hari sabtu sore atau malam minggu, serta hari minggu pagi di lokasi alun alun Simpang Enam ini banyak orang yang menghabiskan waktu untuk melakukan Car Free Day dan juga bisa berolah raga lari lari kecil mengelilingi alun alun bersama keluarga maupun sahabat dekat. Sementara itu berbagai souvenir, alat sekolah sampai alat rumah tangga, sandal sampai hiasan rambut, semuanya juga dijual di area alun-alun Simpang Enam Demak.
Alamat alun alun Simpang Enam Demak
Alun alun Simpang Enam Demak ini berada di depan Masjid Agung Demak yang merupakan pusat kota Demak, yakni di jalan sultan fatah, kelurahan Bintoro / kauman, kecamatan Demak, provinsi jawa tengah.
Rute Menuju alun alun Simpang Enam Demak
Sedangkan akses yang dapat anda lakukan untuk menuju Simpang Enam Demak sangat mudah, apabila anda memulai perjalanan dari semarang maka langsung saja menuju jalan yang akan mengantarkan anda menuju Surabaya, sebelum sampai di lokasi anda akan menemukan lampu merah, teruskan saja setelah anda melihat lampu merah tersebut. Jaran dari lampu merah tadi ke Simpang Enam sekitar 3 km saja. Setelah itu anda akan menemukan alun alun yang sangat luas dan indah yang bertuliskan Simpang Enam Demak, itu pertanda anda sudah sampai di tujuan anda yaitu Simpang Enam Demak. Karena alun alun ini pas di depan Masjid Agung Demak.

Friday, June 2, 2017

Kampung Wisata Tlogoweru Demak, Burung Hantu Pembawa Berkah

Burung Hantu Pembawa Berkah di Tlogoweru Guntur Demak
Demak ternyata tidak Cuma terkenal dengan sebutan Kota Wali, di samping itu juga banyak mempunyai keunikan yang di miliki kota ini, sebut saja Desa Tlogoweru. Desa ini di sebut sebut sebagai desa percontohan dalam hal menangkal sebuah hama tikus, dan hal ini sampai bisa mendongkrak penduduknya dari keterpurukan masalah ekonomi.

Desa Tlogoweru ini sebagian besar penduduknya memelihara burung hantu dalam jumlah yang besar. Burung-burung hantu tersebut memang sengaja ditangkarkan penduduk, dikarenakan di desa tersebut terjadi masalah hama tikus yang sering kali mengganggu persawahan mereka yang sampai mengakibatkan petani sering kali gagal panen. Nama desa ini adalah Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak. Di desa ini burung hantu hidup dengan bebas sampai sekarang jumlahnya semakin meningkat hingga saat ini mencapai 200 ekor. Dengan adanya burung hantu tersebut petani sangat terbantu karena membantu memangsa hama yang berupa tikus.
Ide memelihara burung hantu ini bermula dari seorang petani yang merasa jengkel karena kampungnya sering kali mengalami gagal panen hanya karena hama tikus menyerang persawahan. Bukan cuma padi yang diserang, namun tanaman jagung pun rusak diserang hama tikus. Dahulu hampir setiap tahun 60%-100% area tanaman jagung rusak diterjang hama tikus.
Ide menangkarkan burung hantu ini pada akhirnya berbuah sesuai harapan, selama lebih dari 2 tahun membudidayakan burung hantu tersebut, hasil pertanian penduduk Desa Tlogoweru semakin meningkat dan bisa di harapkan sebagai mata pencaharian. Hasil pertanian hampir mencapai 100% dan ini secara otomatis mendongkrak perekonomian warga. Dan sampai saat ini terdapat ratusan burung hantu yang tersebar di berbagai penjuru desa ini yang masih dalam wilayah Kabupaten Demak.

Burung burung hantu yang ditangkarkan penduduk desa ini adalah jenis burung yang masuk dalam kategori burung hantu berjenis Tyto Alba. Burung hantu tersebut ditangkarkan dan dipelihara sejak kecil. Jika umur burung hantu sudah mencapai 4 bulan dan sudah lihai dalam berburu tikus sebagai mangsa, kemudian pemduduk melepaskan burung tadi dengan bebas dari penangkaran. Agar burung burungnya tetap berada di area lahan pertanian, maka petani membuatkan sangkar bebas / pagupon yang ditempatkan di setiap sudut area pertanian. Biasanya pagupon pagupon tersebut didirikan di area pertanian padi atau jagung yang banyak diserang hama tikus.
Perlindungan Untuk Burung Hantu
Agar burung burung hantu yang ada di desa ini terlindungi, maka pihak Desa Tlogoweru membuat peraturan yang sangat ekstrim, yaitu melarang semua pihak yang terkait untuk tidak menembak burung burung hantu yang ada, siapapun yang melanggar peraturan ini maka akan didenda hingga 2,5 juta rupiah.
Jika masyarakat luas ingin melihat ratusan burung hantu tersebar bebas atau ingin melihat bagaimana cara petani menangkarkan burung hantu tersebut, anda bisa mengunjungi Desa Tlogoweru, Guntur, Demak.
selain Tlogoweru dijadikan tempat konservasi burung Serak Jawa ( Tyto alba ), juga alangkah baiknya jika desa Tlogoweru dibuatkan taman wisata, yaitu dengan menambahkan beberapa fasilitas:
Membangun taman dengan ornamen burung Tyto alba / patung burung Tyto alba
Memproduksi Kaos bertuliskan "Tlogoweru Desa Wisata" atau "Tlogoweru Desa Inovasi Burung Tyto alba" atau "Tlogoweru Owl Conservation"
Membangun Kebun Binatang yang isinya berbagai jenis burung dari dalam dan luar negeri.

Batas Kampung Wisata Tlogoweru
Desa Tlogoweru Kecamatan Guntur Dengan batas wilayah sebelah utara Desa Bogosari Kecamatan Guntur Demak, sebelah selatan Desa Sidorejo Kecamatan Karangawen Demak, Sebelah timur Desa Tajemsari Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan, sebelah barat Desa Pamongan Kecamatan Guntur Demak dan Desa Pundenarum Kecamatan Karangawen Demak.
Komoditas di Kampung Wisata Tlogoweru
Komoditas Pertanian: Padi, Jagung
Komoditas Perkebunan: Mangga Arum manis, Jambu Air Merah Delima, Jambu Air Citra, Pisang Pipit, Pisang Raja Bulu
Komoditas Peternakan: Sapi / Kerbau, Kambing Jawa Randu, Unggas
Komoditas Perikanan: Budi Daya Ikan Lele di Kolam Terpal
Rute Menuju Kampung Wisata Tlogoweru
Untuk sampai di kampung wisata Tlogoweru anda bisa memulai perjalanan dari demak kota atau pun dari semarang. Bila dari demak maka yang harus anda lakukan adalah melewati jalan pantura dari arah demak menuju semarang dan ketika sampai di halte buyaran belokan ke kiri kendaraan anda dan menuju karang awen, dan setelah sampai di persimpangan empat di desa Pamongan maka anda harus belok ke kiri lagi dan setelah itu teruskan perjalanan sampai di desa tlogoweru dengan tanda gapura yang bertuliskan “ Kawasan Kampung Wisata Tlogoweru”.

Monday, May 15, 2017

gumuk pasir di pantai morodemak, fenomena alam yang langka

Pantai Morodemak yang Semakin Diburu Para Pelancong
Fenomena alam memang selalu menimbulkan mata orang yang melihatnya akan terbelalak kagum / kaget, dan tak jarang akan menimbulkan kesan yang mendalam, tak terkecuali fenomena yang terjadi di daerah pantai di demak lebih tepatnya terjadi di Morodemak, kecamatan Bonang, Kabupaten Demak. Munculnya gumuk atau gundukan pasir (sand dune) di wilayah pesisir Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Morodemak Desa Purworejo Kecamatan Bonang, dan ini mulai di perhatikan warga, dan mulai mengundang perhatian para pecinta pemandangan alam apalagi pemandangan yang sangat unik dan langka. Warga setempat tertarik menjadikan gumuk sebagai lahan rekreasi baru dan juga yang pasti murah.
Munculnya Gumuk Pasir tersebut merupakan kejadian alam yang langka dan jarang terjadi di daerah tropis, khususnya di Kabupaten Demak. Lokasi kejadian alam langka atau gumuk ini muncul di muara sungai Tuntang Lama yang bertemu dengan perairan pantai Bonang.

Menurut tokoh masyarakat Desa Purworejo H Ismail, sudah sejak belasan tahun kemaren gumuk pasir muncul di lokasi dekat pelabuhan. “Kemungkinan sekitar tahun 2000, awalnya gumuk belum begitu luas, namun sekarang hingga 2.000 meter persegi,” ungkap Ismail, selaku tokoh masyarakat.
Warga sekitar atau pelancong luar sering mengunjungi gumuk tersebut untuk melihat pemandangan yang sangat langka dan unik ini, apalagi kalau mengunjungi tempat tersebut pada waktu sore menjelang malam, anda akan dapat memanjakan mata anda dengan pemandangan yang sangat mempesona yaitu langit yang berwarna kuning keemasan berkolaborasi dengan birunya warna langit yang ada di sekitarnya, karena sunset di lokasi ini sangat jelas dan terang, disamping berada di laut lepas juga karena memang pantai ini posisinya menghadap ke barat, jadi sangat cocok untuk menikmati pemandangan sunset yang sangat fenomenal.
Di lokasi laut itu, sebagian pengunjung juga bisa melakukan aktifitas seperti memancing ikan, duduk duduk di pinggir pantai sambil berfoto bersama keluarga, atau jalan jalan menikmati semilirnya angin laut jawa yang sejuk.
GUMUK PASIR MORODEMAK, LOKASI WISATA BARU YANG LANGKA
Usahakan datang pada saat pagi hari sehingga sinar matahari tak terlalu terik, dan juga biar waktu untuk menikmati fenomena alam ini bisa lebih lama dan merasa puas. 
Dalam perkembangannya, gumuk pasir ini cukup menarik minat para pengunjung, selain berekreasi sekaligus untuk mengenalkan kepada anak-anak akan udara laut yang mengandung unsur kesehatan. Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) (Heru Budiono) mengakui kemunculan gumuk pasir mengundang perhatian warga. Banyak pengunjung berwisata di lokasi gumuk, bahkan beberapa pedagang kerap menjajakan makanan dan minuman dilengkapi dengan tenda, untuk menyediakan para pengunjung yang mungkin sudah merasa lapar dan haus biar tidak jauh jauh untuk mencari minuman dan makanan
Heru menambahkan, gumuk pasir tersebut sebenarnya tanah labil dan bukan tanah timbul (akresi). “Gumuk muncul karena ombak laut yang selalu membawa material pasir hingga menumpuk bertahun-tahun. Karena lapisan pasir sangat tebal, pengunjung yang berdiri di atasnya tak merasakan pergerakan pasir,” ungkapnya.
Namun lapisan pasir di atas akan tergerus ombak, ketika arah gelombang laut berubah-ubah. Ketika ditanya untuk didirikan bangunan, Heru tak berani mengatakan bisa, karena posisi gumuk yang labil dan tidak padat, kurang baik untuk pondasi.

Tetapi Heru setuju bila lokasi gumuk sebagai ajang wisata laut, namun harus ada petugas yang selalu mengawasinya terkait keselamatan pengunjung serta pelestarian gumuk tersebut. Karena lokasi gumuk berada di laut dalam.
Pantai Morodemak ini bisa di katakana sebagai destinasi wisata yang baru dan semakin banyak dikunjungi para wisatawan. Hal tersebut terlihat dengan adanya kunjungan berbagai rombongan wisata baik dari SD, SMP bahkan sampai PAUD pun juga mengadakan rombongan ke pantai morodemak yang terdapat gumuk pasir, untuk mengenalkan kepada mereka tentang hal tersebut.
Sesekali akan ada rombongan anak-anak beserta guru pembimbingnya jalan-jalan menikmati keindahan pemandangan di pelabuhan perikanan pantai Morodemak. Untuk sampai di lokasi tersebut wistawan harus menyewa perahu nelayan untuk jalan-jalan ke tengah laut serta ke pantai Morodemak.
ALAMAT WISATA BARU PANTAI MORODEMAK
Pantai morodemak yang terdapat gumuk pasirnya ini bertempat di desa purworejo, morodemak, kecamatan Bonang, kabupaten Demak, jawa tengah.
RUTE MENUJU WISATA PANTAI MORODEMAK
Bila anda mulai dari semarang maka yang perlu anda lakukan adalah melajukan kendaraan anda menuju demak dan sesampainya di stadion pancasila beloklah kekiri dan menuju makam pahlawan yang ada di desa mangunjiwan / kalicilik, setelah itu anda belok ke kiri lagi dan lurus saja dan ikuti jalan tersebut sampai di lokasi pantai morodemak, sedangkan jarak dari makam ke pantai kurang lebih 15km.
Dan apabila dimulai dari kudus maka langsung saja menuju jalan arah semarang, setelah sampai di pasar demak bintoro belokkan kendaraan anda kekanan dan menuju makam pahlawan di kali cilik, setelah itu lakukan seperti yang dari semarang.
TIKET MASUK KE WISATA BARU MORODEMAK
Untuk menikmati pemandangan yang sangat langka ini wisatawan tidak di pungut biaya sepeserpun alias gratis, tetapi yang menjadi masalah adalah untuk sampai di lokasi gumuk pasirnya, para wisatawan harus naik perahu yang di sewakan warga sekitar untuk transportasinya.
Sedangkan untuk sampai ke Gumuk Pasir, wisatawan harus naik perahu warga dengan ongkos Rp 10.000 pulang-pergi per orang. 

Saturday, May 13, 2017

makam raja raja demak, penyiar agama islam di jawa

Berziarah ke Makam Raja-Raja Demak di Masjid Demak
Sebelum membahas panjang lebar tentang makam raja raja demak, alangkah baiknya mengenal lebih jauh siapakah raja ataupun pendiri pertama kerajaan Demak Bintoro. Untuk mengupas tentang raja pertama kali kerajaan Demak Bintoro tidak lepas dari nama besar Raden Patah.
Raden Patah adalah seorang berdarah campuran China dan Jawa yang lahir di Palembang pada tahun 1455. Dia adalah pendiri pertama kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Raden Patah sendiri sangat banyak mempunyai gelar antara lain ( Jin Bun, Pate Rodim, Tan Eng Hwa, dan Aryo Timur). Kisah hidupnya sangat menarik untuk kita pelajari. Perjuangan, kerja keras, dan sikap toleransinya sangat baik untuk di ulas, oleh karena itu mari kita simak silsilah, biografi, hingga makam dan akhir hayat dari pendiri Masjid Agung Demak ini.

Raden Patah merupakan silsilah anak dari Raja Brawijaya dengan selir China bernama Siu Ban Ci. Raja Brawijaya sendiri merupakan raja terakhir dari kerajaan Majapahit yang memerintah sejak tahun 1408 - 1501. Hubungan antara Raja Brawijaya dengan selirnya ini membuat Ratu Dwarawati, isteri Brawijaya cemburu. Karena buta dengan kecemburuan, Raja dipaksa untuk membuang selir tersebut agar tidak tetap tinggal di istana. Meski dalam masa hamil besar, Siu Ban Ci terpaksa harus pergi  menuju Palembang untuk tinggal bersama anak Brawijaya yang merupakan bupati Palembang masa itu, yakni Arya Damar. Setelah melahirkan Raden Patah, Siu Ban Ci kemudian menikah dengan anak tirinya sendiri yang tak lain adalah Arya Damar. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang putra bernama Raden Kusen. 
PERJALANAN HIDUP RADEN FATAH
Seiring berjalannya waktu, Raden Patah tumbuh dewasa. Pada waktu itu, dia diminta menggantikan ayah tirinya menjadi bupati Palembang, namun  dia menolak dengan berbagai alas an, dia memilih pergi kembali ke Tanah Jawa. Kaburnya tersebut disusul oleh adik tirinya setelah beberapa bulan. Raden Patah dan Raden Kusen, yang keduanya pergi ke Jawa dan menolak menjadi bupati tak lain adalah karena mereka ingin memperdalam ilmu agama Islam. Islam kala itu memang tengah mengalami perkembangan pesat di tanah air. Mereka berdua belajar ke Sunan Ampel di Surabaya. Setelah beberapa tahun mengaji, Raden Kusen kemudian kembali ke kerajaan kakeknya, yakni Brawijaya di Majapahit, sedangkan Raden Patah malah menuju Jawa Tengah untuk membuka hutan Glagah Wangi dan menjadikannya sebagai tempat syiar Islam dengan mendirikan pesantren.
Raden Kusen kini telah menetap di kerajaan Majapahit dan telah diangkat sebagai adipati. Bersamaan dengan itu, pesantren yang didirikan Raden Patah pun berkembang dengan pesat dan maju. Mengingat kemajuan pesantren tersebut, Raja Brawijaya yang tak lain adalah ayah dari Raden Patah khawatir jika pesantren tersebut akan digunakan oleh Raden Patah sebagai alat untuk melakukan pemberontakan. Untuk menghindari hal itu, Raja Brawijaya pun menyuruh cucunya, yang tak lain adalah adik tiri dari Raden Patah – Raden Kusen, untuk mengundang Raden Patah. Sesampainya di Istana, Raja Brawijaya sangat amat kagum dengan sosok Raden Patah yang sangat sederhana, santun, berwibawa, dan berbudi. Brawijaya pun sangat senang melihat anak dari selirnya itu memiliki kepribadian kuat. Menyadari hal itu, Brawijaya pun mengangkat Raden Patah sebagai bupati Glagah Wangi. Tak berselang lama, Raden Patah pun merubah nama Glagah Wangi menjadi Demak dan menetapkan ibukotanya di Bintara. Di bawah pimpinan Raden Patah, Demak berkembang sangat pesat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

pertama di Jawa. Beberapa bangunan bukti kemajuan kerajaan demak masih dapat kita jumpai saat ini, contohnya Masjid Agung Demak yang pada tahun 1479 diresmikan oleh Raden Patah Sendiri. Keturunan Raden Patah Menurut naskah babad Jawa, Raden Patah mempunya 3 istri yang antara lain: Putri Sunan Ampel yang kemudian melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana. Kedua anak dari isteri pertama ini secara berurutan kemudian naik takhta. Raden Surya bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Raden Trenggana bergelar Sultan Trenggana. Seorang putri dari Randu Sanga yang kemudian melahirkan Raden Kanduruwan yang pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa dalam menaklukkan Sumenep, Madura. Putri bupati Jipang yang kemudian melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyowo.
WAFAT DAN MAKAM RADEN FATAH
Raden Fatah meninggal pada usia 63 tahun karena sakit yang dideritanya. Dan dia dimakamkan tidak jauh dari masjid Agung Demak dan hingga kini makam Raden Fatah tersebut masih tetap terawat dengan baik bahkan dikunjungi banyak peziarah. Mungkin karena beliau dalam masa kehidupannya banyak berjasa dalam membangun kerajaan Demak, dan juga banyak jasa terhadap perkembangan agama islam di Tanah Jawa. Selain makam Raden Fatah masih banyak makam di lokasi makam Raden Fatah seperti istri, anak, dan juga keturunan keturunan beliau, hampir semua pejabat kerajaan dahulu di makamkan di area dekat makam Raden Fatah, bahkan bupati demak yang dalam beberapa tahun kemaren meninggal dunia dalam masa masih menjabat sebagai bupati Kabupaten Demak.
Di sekitar area makam para raja raja Demak juga terdapat gentong yang berisi air yang di percaya dapat menyembuhkan berbagai penyekit dan bisa awet muda.
MASJID DEMAK PENINGGALAN RADEN PATAH
Menurut beberapa catatan sejarah, Masjid Demak didirikan oleh Raden Patah, putra Raja Brawijaya V penguasa terakhir Kerajaan Majapahit, pada abad ke-15 tepatnya pada tahun 1466 sampai 1477. Ini sekaligus menjadikan masjid ini sebagai salah satu dari masjid tertua yang ada di Indonesia. Saat mendirikan Masjid Demak, masyarakat di sekitar masih banyak yang beragama Hindu atau Budha, sehingga dipilihlah arsitektur yang mendekati gaya bangunan Hindu untuk menjaga toleransi antar umat beragama pada saat itu.
Masjid Demak dibangun dengan atap berbentuk meru atau bersusun tiga yang lazim kita lihat pada bangunan pura. Meru sendiri melambangkan kehidupan manusia yang suatu hari nanti pasti akan kembali kepada Yang Di Atas. Atap meru ini disangga oleh sebanyak 128 tiang, dengan empat tiang di ruang utama didirikan oleh empat wali.
Gaya bangunan semacam ini disebut dengan Saka Majapahit dan tidak digunakan oleh masjid manapun di luar Indonesia. Sedangkan empat tiang yang menyangganya disebut dengan soko guru, atau tiang guru, melambangkan empat orang wali pertama yang menanamkan ajaran agama Islam di Tanah Jawa yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.

Friday, May 12, 2017

menengok peninggalan sunan kalijaga

Masjid Jami’ Kadilangu, Peninggalan Sunan Kalijaga
Masjid Jami' ( Kadilangu ) Trangkil Pati merupakan salah satu situs sejarah yang terlupakan di Kabupaten Demak. Menurut cerita yang sifatnya turun temurun dari orang tua, Masjid Jami' Kadilangu ini merupakan masjid peninggalan Sunan Kalijaga. Dulunya masih seperti musholla / langgar (Sebutan kuno) tidak seperti sekarang ini yang sudah dibangun sangat megah.
Didalam Masjid Jami' Kadilangu ada sebuah Jam Besar kuno dan tentunya antik. Menurut cerita, jam tersebut tahun pembuatannya adalah tahun 1920. Tentu kita semua belum lahir. Tetapi untuk merk dan tahun pembuatan secara jelasnya belum di ketahui secara jelas. Jam tersebut terbilang sangat antik, karena bandul pendulumnya terbuat dari kuningan murni yang bergerak turun jika Jamnya mulai berdetak.
Keunikan Jam ini lagi ada pada daya atau sumber penggerak jarum jamnya yang masih menggunakan "Per". Sedangkan untuk bunyi Jamnya saja ketika berdentang pun sangat lah nyaring. Sehingga menurut penuturan orang tua dulu bahkan suara dentangannya sampai terdengar diseluruh pelosok desa sekitar. jam tersebut sangatlah langka dan unik. Tapi semenjak 3 tahun yang terakhir, jam ini sudah tidak mau mengeluarkan dentang bunyi lagi. mungkin sudah tua atau mungkin memang butuh perawatan yang ekstra.

Sejarah Masjid Sunan Kalijaga
Masjid peninggalan Sunan Kalijaga yang berada di Kelurahan Kadilangu, Kabupaten Demak ini menurut khabar yang beredar Masjid itu dibuat secara pribadi dari salah-satu walisongo tokoh penyebar agama Islam di Jawa, yaitu Sunan Kalijaga dan menurut legenda yang berlaku Masjid tersebut dibuat hanya dalam satu malam. Letaknya dari Semarang sekitar 26 kilometer dan berada di Jalan Raden Fatah Sahid.
Menurut salah satu pengurus masjid, Masjid Kadilangu berdiri sejak 1534 lebih tua dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang didirikan pada 1578. Hal itu bisa dilihat diukiran kayu yang terletak di atas pintu utama masuk masjid yang bertuliskan Arab dengan terjemahan dalam bahasa Jawa "Punika Ngadekkipun Masjid Dina Ahad Wage Sasi Dzulhijah" bertepatan pada tahun tersebut.
Selain tergolong masjid tua, tempat ibadah itu memiliki keunikan yang lain yakni mustaka yang atapnya mirip dengan berbagai masjid lama seperti Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kauman Semarang serta banyak lagi, atap limasan itu bersusun dua. Di kubah terpasang pengeras suara yang difungsikan untuk mengumandangkan azan agar terdengar hingga ke pelosok daerah.
Peninggalan Sunan Kalijaga
Saat masuk ke serambi masjid terdapat dua buah beduk yang berfungsi sebagai penanda masuk waktu shalat. Dari dua beduk itu salah satunya yang berada di sebelah kiri masjid merupakan peninggalan Sunan Kalijaga. Bedug bersejarah itu hingga saat ini masih kuat dan terlihat kokoh.
Setelah melihat serambi, di ruangan utama masjid terdapat saka guru atau tiang masjid yang berjumlah empat buah semuanya masih asli dan terbuat dari kayu jati. Begitu pula pintu dan jendela masjid masih utuh dari kayu jati belum diganti.
beberapa tahun lalu masjid itu dirombak, sehingga saat ini ada beberapa bangunan tambahan untuk mendukung fungsi masjid seperti tempat wudhu serta lantainya di keramik putih.
Menurut Raden Suprayitno Prawiro Kusumo yang juga merupakan Keturunan Sunan Kalijaga ke 14, sewaktu Sunan Kalijaga masih hidup, Masjid Kadilangu itu masih berupa surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sunan Hadi (putra ketiga) surau tersebut disempurnakan bangunannya sehingga menjadi masjid seperti yang kita lihat sekarang ini.
Setiap kali menyambut bulan ramadan, Masjid Sunan Kalijaga juga menyelengarakan acara ramadan seperti pengajian sesudah sholat Subuh, Dzuhur, dan Ashar. Sedangkan sesudah sholat Magrib diadakan takjilan atau menu untuk buka puasa bersama. Takjilan ini biasanya sumbangan dari masyarakat sekitar masjid, yang sudah ditentukan jadwalnya secara bergiilr. Selain itu ada tadarusan setelah sholat Isya dan Tarawih.
Ketika Bulan Ramadhan kebanyakan yang menyemarakkan masjid tersebut hanya warga sekitar, sedangkan pengunjung dari luar sedikit tidak seperti bulan biasa. Tidak jauh dari masjid terdapat makam Sunan Kalijaga yang banyak dikunjungi saat sebelum puasa.

Sumur Peninggalan Sunan Kalijaga
tepat dibelakang rumah sunan kalijaga (dulu) terdapat sumur yg konon berasal dari 7 sungai yg berbeda dan kurang lebih 70m berada di depan Masjid Kadilangu. siapapun yg mandi di sumur ini (konon) akan sembuh dari segala penyakit yg di deritanya. Sebagian kecil dari para peziarah yang tahu akan ritual ini, katanya dari kabar “entah kebetulan atau tidak, setelah mandi dan minum dari air sumur ini si tante sembuh dari penyakit diabetesnya”. 
Sumur tersebut memang berada dilokasi yang sedikit serem karena berada di tempat yang sepi dari aktifitas warga, kalau di lihat dari sekitar lokasi sumur terdapat sebuah rumah yang menurut kabar yang ada rumah tersebut dulunya adalah rumah dari sunan kalijaga sendiri.

makam sunan kalijaga, wali yang menyebarkan islam di jawa

Makam Sunan Kalijaga, Wali yang Terkenal Sangat Merakyat
Semua warga jawa pasti tahu ulama atau wali yang menyebarkan agama islam di tanah jawa yang keseluruhan terbagi wilayah masing masing, sunan atau wali yang menyebarkan islam di sini jumlahnya ada Sembilan maka sering di sebut wali songo ( Wali Sembilan ), untuk membahas wali sembilan tentu tidak luput dari yang namanya Wali yang berasal dari Demak, yang sering di sebut Sunan Klaijaga.

Kono pada saat itu, Raden Fatah bersama adiknya Aryo Bangah mengadakan perjalanan. Di tengah perjalan mereka bertemu Sunan Ampel dan kemudian berguru tentang agama islam dengan beliau. Setelah di rasa ilmunya sudah cukup mereka berdua dikasih mandat oleh sang guru. Di daerah Terung, Aryo Bangah diangkat menjadi Adipati, sedangkan raden Patah disuruh meneruskan perjalanan ke Barat untuk membangun masjid dan menyebarkan agama Islam. Itu merupakan saran dari gurunya, yaitu Sunan Ampel.
Sewaktu Raden Patah tiba di sebuah hutan belukar yang baunya wangi, ia membuka hutan menjadi sebuah permukiman dan tanah-tanahnya ditanami dengan berbagai tanaman pertanian. Daerah hutan tersebut diberi nama Bintoro dan raden Patah menjadi Adipati Bintoro yang pertama. Lalu, apa yang terjadi? Bintoro berkembang pesat sehingga saat ini kita kenal dengan daerah Demak. Setelah itu, Raden Patah bertemu dengan Sunan Kalijaga yang pada saat itu dipanggil Raden Said.
Raden Patah berniat mendirikan masjid atas bantuan Sunan Kalijaga, karena dahulu guru dari Raden Patah yaitu Sunan Ampel menyarankan agar Raden Patah mendirikan masjid namun belum terlaksana. Raden Patah memberikan mandat kepada Sunan Kalijaga untuk memimpin para wali dalam rangka membuat masjid, nama masjid tersebut adalah Masjid Agung Demak yang pada saat ini masih bisa kita lihat kemegahan bangunannya. Setelah masjid yang megah dibangun, Raden Patah memberikan hadiah kepada Sunan Kalijaga berupa tanah di manapun Sunan Kalijaga inginkan. Sunan Kalijaga memilih hutan yang berbau “langu”, lalu jadilah nama daerah Kadilangu. Daerah Kadilangu berkembang pesat. Sunan Kalijaga meninggal di daerah tersebut dan dimakamkan di makam yang dikenal dengan nama Makam Kadilangu.
Sejarah Sebuah Nama Sunan Kalijaga
Makam Sunan Kalijaga berada di Kadilangu, Demak dalam bangunan kokoh dengan ukiran Jepara terbaik baik di pintu, jendela, maupun tiang-tiangnya. Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari Walisongo yang mempunyai sejarah hidup yang unik dan mengesankan. Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon.
Sebelah makam sunan kalijaga terdapat masjid yang dibangun oleh sunan kalijaga. Masjid Sunan Kalijaga ini berdiri di tengah-tengah masyarakat santri. Beberapa meter di sebelah timur Kompleks Makam Sunan Kalijaga dan keluarganya, di Kadilangu, Demak. Di situ terdapat madrasah dinniyah dan TPA. Sejauh ini, tidak diperoleh data akurat kapan persisnya masjid kuno ini dibangun untuk pertama kali. Namun, berdasarkan cerita mulut ke mulut, masjid itu dibangun Sunan Kalijaga pada suatu malam dan selesai malam itu juga, sebelum dilaksanakan shalat Subuh berjamaah pada tahun 1479 M. Wallahu ’alam. Yang jelas, menurut prasasti yang tersimpan di sana, masjid itu mengalami renovasi pertama kali pada 1564 M oleh Pangeran Wijil. Namun, tidak pula terlacak Pangeran Wijil keberapa di antara lima Pangeran Wijil yang tercatat dalam sejarah.
Sejarah Sunan Kalijaga yang Sangat Merakyat

Sunan Kalijaga terkenal sebagai seorang wali yang sangat merakyat, sehingga sering dijuluki sebagai muballigh keliling atau dai kelana. Tak cuma wong cilik yang suka mendengar wejangannya, kaum bangsawan dan cendekiawan pun amat simpati kepada beliau, karena caranya mensyiarkan agama Islam yang disesuaikan dengan keadaan dan zaman pada waktu itu. Namun, terlepas dari sikap tolerannya, Sunan Kalijaga juga seorang wali yang kritis. Maka tidaklah mengherankan jika Makam Sunan Kalijaga banyak dikunjungi para peziarah untuk berdo’a (ngalap berkah) dan mendekatkan diri atau mengingatkan diri kepada kematian.
Setiap harinya tidak kurang dari ribuan para peziarah yang datang untu bertawasul kepada sunan kalijaga agar semua permintaan di kabulkan oleh yang maha kuasa. Walaupun sunan kalijaga sudah meninggal dunia ratusan tahun silam tetapi masyarakat yakin dan percaya keberkahan beliau masih tetap bisa dirasakan masyarakat luas.
Alamat dan Akses Menuju Makam Sunan Kalijaga
Makam Sunan Kalijaga berada di desa Kadilangu, kecamatan Demak, kabupaten Demak, jawa tengah, berjarak kurang lebih 1,5 km dari pusat kota Demak ( alun alun Demak ).
Untuk menuju ke lokasi makam kadilangu sangat lah mudah, apabila sudah sampai di kota yang berjuluk kota wali ini maka anda tinggal menuju pusat kota Demak yaitu suatu tempat yang di tandai dengan sebuah lapangan yang berbentuk bulat yang disebut alun alun dan juga di tandai bangunan masjid yang sangat megah Masjid Agung Demak, setelah sampai disitu itu pertanda tujuan anda sudah dekat yakni tinggal 1,5 km saja. Langsung saja anda menuju lokasi yang dikehendaki atau dengan bertanya kepada warga sekitar pasti anda akan diberitahu dengan ramah lokasi Makam Kadilangu.

Thursday, May 11, 2017

pantai morosari, surga milik demak yang tersembunyi

Pantai Morosari, Keindahan Kota Demak yang Tersembunyi
Pantai Mor / Morosari itu lah nama yang disandang pantai yang terletak di Kecamatan Sayung, yaitu daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Lebih tepatnya di desa Bedono, kira – kira 3,5 dari jalan raya Semarang – Demak km 9. Pantai Morosari dikenal sebagai wisata bahari unggulan di Kabupaten Demak. Di tempat ini, para wisatawan dapat menikmati panorama alam yang sangat indah, terutama lagi saat sunset atau terbenamnya matahari.

Pantai Morosari, sebuah wilayah pesisir di Timur Laut Sayung Demak, yang diresmikan sebagai objek wisata sejak masa Bupati Endang Setyaningdiah.
Kebanyakan masyarakat sekitar Pantai Morosari aktifitasnya adalah melaut (miyang), itu pun mayoritas yang melakukannya hanya warga yang tenaganya masih kuat, sedangkan warga yang sudah udzur atau sudah separuh baya mereka memilih beralih profesi dengan cara menarik perahu mereka untuk para wisatawan (ojek perahu), itu pun dilakukan setelah tempat wisata Pantai Morosari di resmikan oleh bupati demak pada waktu itu.
Mayoritas pengunjung adalah anak muda yang ingin bercengkrama dengan pasangan maupun teman temannya sambil menikmati panorama pantai.
Jarak tempuh dari Stasiun Tawang, Bandara Ahmad Yani, Terminal Terboyo Semarang yang hanya sekitar 15 menit ditambah akses menuju lokasi wisata ini sangat bagus, jalan beton sepanjang 3 km yang mulus dan tak terputus menghubungkan pantura dengan Pantai Mor harusnya mampu menarik pengunjung dari luar daerah.

Hanya mungkin perlu di publikasikan lagi agar bisa mempengaruhi animo para wisatawan untuk mau menjadikan Pantai Mor sebagai salah satu destinasi wisata alam bahari di waktu luangnya.
Wisata Religi di Pantai Morosari sayung demak
Di dekat Pantai morosari ini pula, para pengunjung dapat melakukan wisata religi yaitu berziarah ke makam salah satu ulama besar di daerah sekitar Demak, Syech Mudzakir. Syech Mudzakir adalah salah satu ulama penyebar agama Islam di daerah pesisir pantai Sayung Demak. Makam beliau terletak di daerah pesisir Morosari Sayung. Makam ini mempunyai keistimewaan dan keunikan, yaitu pada letaknya yang berada di tengah laut namun tidak pernah tenggelam meskipun saat air laut pasang.
Sebelum menuju Makam Syech Mudzakir, pengunjung akan dimanjakan dengan view hutan mangrove yang asri lengkap dengan hampir seratus ribu ekor spesies burung blekok atau bangau atau Ardeola Spesiosa. Di hutan ini sudah dilengkapi pula dengan mangrove track. Perjalanan bisa ditempuh melalui jalur darat maupun jalur laut. Sudah tersedia pula kapal motor yang dapat membawa peziarah menuju ke makam sekaligus menikmati suasana laut.
Ojek Perahu di Pantai Morosari
Tarif ojek perahu di Pantai Mor sangat terjangkau, untuk rute Pantai Mor ke Makam dan hutan Mangrove yang bisa ditempuh dalam waktu 30 menit, pelancong hanya perlu merogoh kocek Rp 15.000/ penumpang.
Di sisi lain, para wisatawan akan menjumpai aktivitas para pengunjung lain, biasanya para bapak bapak setengah baya yang berselempang sarung akan  mendatangi para wisatawan lokal. Mereka adalah para tukang ojek perahu yang sedang menawarkan jasanya. “Monggo, praon teng Makam Mbah Mudzakir atau hutan mangrove. Ongkose murah lho pak / bu / Mas / mbak. Tiyang setunggal namung (15 ewu) (Mari naik perahu ke Makam Mbah Mudzakir atau hutan mangrove. Ongkonya murah lho Bapak, Ibu, Mas dan Mbah. Satu penumpangnya hanya Rp 15.000 ),” ajak mereka bersemangat.

Mereka, para pengojek perahu yang rata rata berusia separuh baya hanya mengandalkan jasa  yang berkenan disewa oleh para pelancong. Pekerjaan ini mereka tekuni setelah vitalitas tak bersahabat lagi semenjak usia bertambah tua.
Di Pantai Morosari memang baru ada beberapa perahu ojek yang menjadi satu satunya alat transportasi menuju objek wisata di seputar Sayung (pantai morosari, hutan mangrove, makam syekh Mudzakir dan lain lain). Itupun belum ada kelompok paguyubannya. Mereka hanya berinisiatif sendiri.
Fasilitas yang bisa di nikmati di Pantai Morosari sayung demak
Pantai Morosari  terletak di Sayung Kabupaten Demak 20 km sebelah timur kota Semarang.Pantai ini dikelola oleh perumda Demak. Memang tak setenar pantai2 lainya namun bisa di pertimbangkan untuk di kunjungi. Pemandangan alami yang menakjubkan coba ditawarkan pantai ini. Didukung dengan sejumlah permainan air, seperti jetski, speedboat, perahu naga, kayak kano dan becak air, pantai ini mencoba mengajak pengunjung untuk menikmatinya. Selain itu tersedia juga kuliner di restoran yang berdiri di dalam kawasan objek wisata tersebut.
Kuliner di Pantai Morosari sayung demak
Setelah selesai berziarah dan berjalan- jalan di hutan mangrove, pengunjung bisa mencicipi hidangan olahan laut di warung apung pantai Morosari. Warung ini menyajikan berbagai menu makanan dan minuman bahkan cemilan ringan atau snack.

Wednesday, May 10, 2017

wisata alam hutan mangrove di demak yang sangat keren

Demak Punya Wisata Alam Berupa Hutan Mangrove yang Sangat Menakjubkan
Demak merupakan salah satu kota yang berada di Pesisir pantai jawa makanya  daerah ini memiliki pantai yang cukup panjang. Oleh karenanya ada satu daerah yang mengelola pantai untuk dikembangkan sebagai obyek wisata Bahari. Salah satunya adalah Pantai Morosari yang berada di kecamatan Sayung. Pantai ini dulunya adalah sebuah pedesaan  yang cukup padat penduduknya dan masuk dalam wilayah desa Bedono. Namun karena adanya abrasi yang terus menerus menggerus lingkungan desa maka ratusan rumah hilang diterjang ombak.

Untuk memulihkan kondisi tersebut maka para warga pada puluhan tahun yang lalu di desa ini di tanami tanaman mangrove agar laju dari abrasi berhenti atau berkurang. Mangrove yang ditanam tersebut pada waktu kini telah menjadi hutan hutan kecil, namun untuk niat awal yaitu menghentikan laju abrasi bisa dikatakan sedikit gagal karena air laju laut yang semakin masuk kedesa bahkan sampai beberapa desa di sekitar tempat tersebut dipaksakan untuk pindah. Tetapi tanaman mangrove yang ditanam tadi akhirnya membentuk hutan-hutan mangrove kecil yang cukup indah dipandang dan mempesonai. Selain itu banyak pula burung-burung liar yang bersarang di hutan ini.
Akhirnya pemerintah kabupaten Demak lewat Dinas Pariwisata dan Perusda Anwusa mengembangkan pantai ini sebagai obyek wisata alam pantai andalan. Selain bisa melihat rimbunnya tanaman mangrove dengan cara berjalan kaki melewati jembatan kayu panjang yang di sediakan pihak pengelola, wisatawan juga bisa menikmati indahnya hutan mangrove ini dengan naik perahu yang anda sewa dari penduduk sekitar.
Di sekitar Obyek wisata ini juga terdapat wisata religi dengan makam yang terapung di tengah laut, yaitu makam Syekh KH Abdullah Mudzakir, beliau adalah salah satu tokoh penyebar agama Islam di desa itu. Makam ini cukup unik karena selamat dari gerusan abrasi. Sedangkan ratusan rumah sekitar roboh ditinggalkan penghuninya. Setiap hari makam ini menjadi tempat berziarah warga setempat juga para wisatawan luar kota.
Oleh karena itu selain pengunjung bisa menikmati pemandangan hutan mangrove yang indah yang juga di penuhi ratusan bahkan ribuan burung (blekok sawah) juga disuguhi pemandangan laut lepas dengan air yang berwarna biru sepanjang mata memandang, deburan ombak serta hutan mangrove yang menghijau. Pengunjung juga disuguhi akan sisa-sisa bangunan rumah, jalan, jembatan   di dukuh Morosari yang terkena abrasi laut.

Banyak pengalaman yang akan anda dapatkan ketika berkunjung ke tempat wisata hutan mangrove ini. Sedikit tambahan daerah ini merupakan bekas perkampungan yang tenggelam akibat abrasi. Di tempat ini pula, hidup kawanan burung bangau dan hewan bekantan, dan yang pasti ada pantai luas membentang di hadapan para pengunjung.
Jangan kira di Kabupaten Demak tidak mempunyai keindahan alam. Di Desa Bedono Kecamatan Sayung Demak terdapat Hutan Mangrove Morosari yang menyimpan sejuta keindahan.
Alamat dan Rute menuju ke Hutan Mangrove Demak
Hutan mangrove ini terletak di Desa Bedono, Kecamatan Sayung - Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Persisnya dari jalan Raya Semarang - Demak Km. 9 pada saat sampai di jembatan Sayung dari arah Semarang menuju Demak beloklah kekiri dan kemudian anda harus menyusuri kali sepanjang hampir 3 km kearah laut. Setelah itu anda akan sampai di tempat wisata tujuan anda yang sangat indah.
Disitu lah pantai morosari berada. selama perjalanan ke Wisata Morosari pengunjung akan di suguhkan suasana tambak ikan bandeng yang begitu luas.

Fasilitas yang ditawarkan adalah:
1. Resto terapung yang menyediakan masakan laut dengan bumbu khas balijawa, seperti Udang, kakap, gurame, Cumi-cumi, Kepiting, Paket paus, Paket Hiu, Paket Lumba dengan harga terjangkau.
Jika anda berkunjung ke lokasi ini, anda akan disambut dengan rimbunnya hutan mangrove yang begitu indah dan pada waktu anda ingin moment yang sangat romantis usahakan anda datang ke tempat ini, karena tempat ini sangat sejuk karena banyak pepohonan dan cocok dijadikan tempat untuk ber- selfie.
Di tempat ini anda juga bisa menikmati pemandangan sunset dengan nuansa semilir angin laut yang sepoi sepoi dipinggir laut, disampingnya berupa pemandangan hutan yang masih asri dan ditemani dengan sejuknya udara pantai morosari. Disini juga akan anda nikmati ratusan bangau putih yang bertengger di atas pepohona hutan maupun beterbangan disekitar pantai.

Museum Masjid Agung Demak yang Menyimpan berbagai benda bersejarah

Sejarah Museum Masjid Agung Demak

Museum yang terdapat di depan sebelah kiri masjid Agung Demak tidak lain adalah peninggalan masjid agung demak tempo dulu, semua isi dari museum tersebut sebagiannya dari peninggalan bangunan Masjid Agung Demak dan salainnya dari peninggalan kerajaan demak bintoro. Untuk membahasnya tidak akan bisa di pisahkan dengan bangunan Masjid Agung Demak.  Masjid Agung Demak adalah salah satu Masjid tertua yang terdapat di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid Agung Demak dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah jawa yang disebut dengan walisongo (WaliSembilan). Pendiri masjid tersebut diperkirakan adalah Raden Fattah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak Bintoro pada abad ke-15 Masehi.

Arsitektur Bangunan Masjid Agung Demak
Masjid ini mempunyai bangunan antara lain induk dan serambi. Bangunan induk mempunyai empat tiang utama yang disebut saka guru. Yang unik dari tiyang-tiyang tersebut adalah salah satunya dari tiang utama tadi konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, makanya diberi nama saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung Candra Sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. dan juga museum Masjid Agung Demak yang berada di komplek Masjid agung demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.
Museum Masjid Agung
Museum Masjid Agung Demak adalah sebuah museum yang terletak di dalam kompleks Masjid Agung Demak, terdapat di lingkungan alun-alun kota Demak. Museum ini buka tiap hari mulai dari hari Senin hingga Minggu pada jam kerja. Museum ini menyimpan berbagai barang peninggalan Masjid Agung Demak. Jumlah koleksi benda bersejarah di museum ini mencapai lebih dari 60 koleksi benda-benda bersejarah Masjid Agung Demak, bahkan benda zaman Kerajaan Majapahit hingga Kesultanan Demak Bintoro.
Museum ini berdiri di atas lahan seluas 16 meter persegi yang berada di kompleks Masjid Agung Demak. Dibangun dengan anggaran mencapai Rp1,1 miliar yang berasal dari APBD Demak dan sisanya dari Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Masjid Agung Demak.

Gubernur Jateng (saat itu) Bibit Waluyo berharap, keberadaan museum tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas dari berbagai daerah untuk bisa melihat secara dekat saka tatal Masjid Agung Demak, karena pada 1980-an mengalami pemugaran dan saka tatal yang asli disimpan.
"Sekarang, masyarakat bisa melihat saka tatal yang sebelumnya digunakan untuk menyangga atap bangunan masjid, sehingga memiliki nilai sejarah yang tinggi," ujarnya. Pada kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bupati Demak Tafta Zani (pada saat itu), karena atas prakarsanya museum tersebut bisa terlaksana dan berdiri.
Koleksi di Museum Masjid Agung
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Agung Demak ( M Asyiq ) mengungkapkan, jumlah koleksi benda-benda bersejarah di museum tersebut mencapai 60-an koleksi.
Di antaranya, soko guru Masjid Agung Demak dari Sunan Bonang yang sudah rusak yang memiliki ketinggian sekitar 1.630 centimeter sedangkan kerusakannya sekitar 725 centimeter, kentongan wali abad XV, bedug wali abad XV, daun pintu serambi Masjid Demak 1804 masehi yang merupakan peninggalan zaman Majapahit, kap lampu peninggalan Paku Buwono ke-1 pada 1710 Masehi.
Pengunjung juga bisa melihat kayu tiang tatal yang dibuat oleh Sunan Kalijaga, gentong Putri Campa, pintu bledeg ciptaan Ki Ageng Selo, serta koleksi lain zaman Majapahit hingga Kesultanan Demak.
pengunjung bisa melihat koleksi benda sejarah yang terdapat di museum Masjid Agung Demak tersebut dan bisa menggali nilai sejarah yang terjadi pada waktu silam yaitu pada waktu kerjaan Demak Bintoro bahkan perkembangan Masjid Agung Demak mulai dari jaman dahulu hingga pada saat sekarang ini.
Selain itu dalam hal penataan benda-benda bersejarah tersebut pihak pengelola museum sampai mendatangkan ahli arkeologi, agar supaya penataannya bisa maksimal dan bisa terlihat mempesona seperti pada jaman dahulu kala, dan supaya budaya dan sejarah Islam tidak pudar dan bahkan hilang di telan waktu.
Untuk generasi muda saat ini, dimungkinkan masih banyak yang belum mendapatkan informasi lengkap soal sejarah Masjid Agung Demak maupun zaman kerajaan Majapahit.
Pihak pengelola Museum khawatir ada oknum peziarah yang usil, maka bekas 'soko guru' Masjid Agung Demak (MAD) karya Sunan Kalijaga enam abad silam, terpaksa di kerangkeng dalam sel di museum. Bahkan sebagian warga menganggap, serpihan kayu soko tatal/soko guru milik Sunan Kalijogo sangat bertuah. Bisa untuk jimat dan juga untuk menangkal berbagai permasalahan yang di alami manusia.

Tuesday, May 9, 2017

masjid agung demak yang penuh sejarah dan keajaiban

BUKTI SEJARAH MASUKNYA ISLAM, MASJID AGUNG DEMAK
Masjid Agung Demak adalah sebuah masjid yang penuh dengan keajaiban mulai dari masa pembangunannya sampai sudah ditempai dan bahkan sampai sekarang, masjid ini termasuk masjid tertua di Jawa. Masjid di kota wali ini juga menjadi situs bukti sejarah yang sangat penting terkait penyiaran agama Islam di tanah Jawa khususnya dan nusantara pada umumnya.
Sejarah mencatatkan bahwa masjid agung yang berlokasi di pusat kota Demak ini menjadi tempat berkumpulnya para wali yang banyak orang menyebutnya wali songo. Dibangun pada masa kekuasaan Raden Fatah pada abad ke-15, secara politik masjid agung ini menjadi pusat pemerintahan pada waktu itu, mulai dari ibadah, mengatur strategi perang bahkan sampai hal belajar mengajar.

Secara arsitekturalnya, Masjid Agung Demak memiliki ukuran dan ciri khas seperti yang di miliki kerajaan Majapahit, dan juga memiliki keunikan tersendiri. Sedikitnya ada empat keunikan Masjid Agung Demak, yakni sebagai berikut:
Keunikan Masjid Agung Demak
1. Saka Tatal
Masjid Agung Demak memiliki empat saka (tiang) utama. Tiang-tiang itu tingginya 16 meter. cerita yang beredar di kalangan masyarakat luas dan buku buku babat tanah jawa menyebutkan keempat tiang tersebut dibuat oleh empat wali terkemuka, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.
Salah satu dari keempat tiang tersebut ada yang unik alias nyeleneh, tapi yang paling mengagumkan adalah saka tatal, yaitu tiang yang terbuat dari tatal atau serpihan-serpihan kayu sisa yang diikat. Saka tatal itu dipercaya buatan Sunan Kalijaga. Meski tidak terbuat dari kayu utuh, saka tatal ini kekuatannya sama dengan tiang-tiang lainnya.
2. Atap Berundak Tiga
Atap Masjid Agung Demak berbentuk limas yang berundak tiga. Dalam cerita-cerita yang ada, atap ini juga disebut Sirap Atap berundak ini disinyalir sebagai akulturasi budaya Hindu yang teradaptasi masuk ke kultur Islam. Hal itu juga menjadi pertanda bahwa penyebaran Islam pada masa Walisongo sangat adaptif dan tidak konfrontatif terhadap budaya lokal.
Ada yang unik dari salah satu ketiga undakan itu yaitu dipercaya masyarakat ada yang terbuat dari intip. Intip adalah kerak nasi yang terbentuk mengeras ketika menanak nasi liwet. Menurut cerita yang diyakini secara turun-temurun, pada masa pembangunan atap masjid kekurangan bahan sirap. Konon Sang wali Sunan Kalijaga melemparkan intip ke atas masjid, dan kun fa yakun jadilah atap.
3. Lawang Bledeg
Lawang bledeg atau pintu petir adalah pintu utama Masjid Agung Demak. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo sekitar tahun 1446 M. Ki Ageng Selo adalah seorang terkenal sakti mandraguna yang mampu menangkap petir. 
Pintu bledeg itu terbuat dari kayu tebal dengan ukiran naga. Ukiran itu punya warna yang menonjol dengan kombinasi warna merah. Dalam khazanah kultur Jawa, gambar di pintu ini merupakan candra sengkala (penanda waktu) kapan bangunan masjid itu dibuat. Adapun bunyi prasasti itu sendiri berbunyi “Nogo Mulat Saliro Wani”.
4. Kolam Wudlu
Kolam Wudlu adalah tempat wudlu yang terletak di samping kiri depan masjid. Tempat wudlu ini berbentuk kolam, orang Jawa menyebutnya kolah. Pada jaman dahulu tempat wudlu kebanyakannya didesain bukan pancuran, tetapi berbentuk kolah cara wudlunya dengan cara nyawuk (mengambil air dengan dua telapak tangan). Karenanya tempat wudlu ini harus luas dan dalam agar selalu terjaga fungsinya sebagai air suci yang menyucikan. Kolam wudlu di Madjid Agung Demak sendiri berukuran 10×25 meter. Di dalamnya terdapat tiga batu dengan ukuran yang berbeda.

Tidak semua elemen situs Masjid Agung Demak bisa dijumpai langsung saat ini. Karena sebagian besar telah disimpan di Museum Masjid Agung Demak. Kalau anda berkeinginan untuk melihat situs Masjid Agung Demak yang sudah masuk museum maka anda bisa mengunjungi museum yang terletak di depan Masjid sebelah kiri.
Alamat Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak ini terletak di pusat kota Demak, yakni di jalan sultan fatah, kelurahan Bintoro / kauman, kecamatan Demak, provinsi jawa tengah.
Rute Menuju Masjid Agung Demak
Sedangkan akses yang dapat anda lakukan untuk menuju Masjid Agung Demak sangat mudah, apabila anda dimulai dari semarang maka langsung saja menuju jalan yang akan mengantarkan anda menuju Surabaya, sebelum sampai di lokasi anda akan menemukan lampu merah, teruskan saja setelah anda melihat lampu merah tersebut. Jarah dari lampu merah tadi ke Masjid Agung sekitar 3 km saja. Setelah itu anda akan menemukan alun alun yang sangat luas dan indah, itu pertanda anda sudah sampai ke tujuan anda yaitu Masjid Agung Demak. Karena alun alun tersebut pas di depan Masjid Agung Demak.

Monday, May 8, 2017

keajaiban makam di tengah laut makam KH Abdullah Mudzakir di sayung

Makam KH. Abdullah Mudzakir di Tengah Laut

NAMA KH Abdullah Mudzakir, atau biasa disebut Mbah Mudzakir, atau bahkan di sebut makam tengah laut sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat luas. Tidak heran kalau banyak para muhibbin datang ke makamnya untuk berziarah. Mereka tidak hanya dari Demak, tetapi juga luar daerah demak.
Juru kunci makam Mbah Mudzakir (Kiai Fauzan)(54) menuturkan meski berada di tengah laut, makam kiai karismatik itu tak pernah tergenang air pasang. Padahal saat ini makam makam yang berada di sekitar wilayah tersebut sudah mulai terlihat tergenangi air laut. Itulah keunikannya, hanya makam Mbah Mudzakir bersama istri dan anak-anaknya yang tak terjamah air laut.
Itulah yang merupakan keajaiban makam wali tersebut. Ya, tak pernah tenggelam walau air laut pasang atau naik, gelombang tinggi atau banjir besar. Itulah penuturan setiap warga sekitar yang sedang berziarah. "Permukaan makam segitu terus. Kalau air pasang seakan-akan makam Syekh Mudzakir naik".
Dari situlah sampai saat ini makam Syekh Mudzakir terus dipadati peziarah siang bahkan malam. Mereka adalah warga sekitar, warga luar kota Demak, dari rakyat biasa, pejabat, atau santri. Mereka ngalap berkah dari Allah dengan berwasilah atau lewat perantaraan Syekh Mudzakir.
Meski berada di tengah laut, sampai saat ini makam itu tak pernah sepi dari peziarah. Biasanya peziarah datang pada Jumat atau saat haul Mbah Muzakir pada bulan Zulkaidah. Warga sekitar selalu mengadakan haul di sekitar makam. Jadi banyak jamaah berdoa dan berzikir di atas perahu karena makam tak muat menampung semua pengunjung
"Yang datang akhir tidak kebagian tempat, ya berdoa di tengah laut disekitar makam. Rata-rata mereka berdoa di atas kapal di sekitar makam," tambah Fauzan.
Fauzan yang masih keturunan dengan Mbah Mudzakir menuturkan, semula dalam kompleks pemakaman menyatu dengan daratan Dusun Tambaksari. Namun sejak tahun 1998 Tambaksari terkikis oleh abrasi pantai.
Ketika air laut pasang seluruh perkampungan tergenang. Semula air pasang hanya menggenangi jalan, tetapi lambat laun mencapai 60 cm. walhasil, 80 keluarga di dusun itu memilih untuk pindah. Sekitar 1999, mereka memilih pindah ke Desa Purwosari.

Namun lima keluarga yang mempunyai hubungan saudara dengan Mbah Mudzakir memilih untuk bertahan \ karena merasa mempunyai kewajiban menjaga makam leluhurnya tersebut.
Pemandangan Laut sekitar Makam Mbah Mudzakir
Daya tarik wisata ziarah itu tak hanya terlihat dari keunikan makam di tengah laut. Namun juga dalam perjalanan menuju makam tersebut juga merupakan pengalaman menarik dan bisa menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Dari jalan utama Semarang -> Demak, wisatawan religi terlebih dahulu harus menempuh beberapa kilometer menuju kompleks Pantai Morosari di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Setiba di sana, pengunjung harus menempuh lagi jarak sekitar 1 kilometer untuk mencapai makam. Pengunjung bisa berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang terbagi menjadi tiga (3) zona. Itu termasuk keunikan tempat tersebut. Zona pertama, pengunjung akan berjalan sekitar 500 m dengan sejauh mata memandang, di kanan-kiri terlihat pemandangan laut. Suasana laut akan semakin terasa dengan semilir tiupan angin dan pengunjung juga dapat melihat beberapa warga sekitar baik dewasa, remaja maupun anak-anak memancing. Keindahan lain adalah saat memasuki zona kedua kurang-lebih 200 m menuju makam. Di lokasi ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan mangrove begitu indah. Jalan setapak yang berupa jembata kayu membawa suasana teduh. Lokasi ini juga sangat bagus bagi para pengunjung yang hobi fotografi, karena nuansa suasana yang disuguhkan akan terlihat menarik di dalam frame kamera.  Selain itu banyak sekali populasi burung yang tinggal di sana menabah suasana hutan mangrove menjadi lebih hidup. Di lokasi itu banyak anak muda berdatangan untuk ziarah, memancing, atau bermain dan berfoto bersama.
Di zona ke tiga / terakhir, pengunjung akan menyusuri jembatan kayu yang menghubungkan daratan dan makam Mbah Mundzakir ± 100 m yang kanan- kiri adalah laut lepas. Di makam berukuran 7 x 7 meter itu udara seketika akan terasa sejuk. Selain terlindung cungkup, angin laut yang bertiup terasa menyegarkan. Dari makam itu pengunjung akan merasakan suasana laut, dan juga bisa melihat kapal-kapal yang akan menepi di pelabuhan semarang (tanjung Mas), melihat pantai dan merasakan sayup-sayup deburan ombak.
Jika tak ingin melalui jalur darat, perjalanan bisa di tempuh dengan perahu bermesin sehingga bisa merasakan perjalanan lewat laut.
Sejarah Mbah Mudzakir
Kyai Fauzan menyebutkan salah satu keajaiban alam itu tak lepas dari asal-usul Mbah Muzakir, yang tak lain ulama yang menyiarkan Islam di kawasan Pantai Sayung. Semasa muda, pria kelahiran Dusun Jago, Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen, tahun 1869 itu banyak berguru pada ulama dari berbagai daerah.
Setelah merasa cukup, sekitar tahun 1900 dia menetap di Tambaksari, Bedono, serta menikahi Latifah dan Asmanah. Beberapa waktu kemudian dia menikah lagi dengan Murni dan Imronah. Dari keempat istrinya Mbah Muzakir dikaruniai 18 anak.
Di tempat itu, dia mulai melakukan syiar Islam. Sebuah masjid pun didirikan. Cara penyampaian materi keagamaan mudah dicerna sehingga banyak santri mengaji kepadanya. Mereka kebanyakan takmir mushola serta masjid di Demak dan daerah sekitarnya. Karena itulah dia sering disebut pencetak kader kiai. Bahkan semua keturunannya menjadi pemangku masjid dan mushola.
Kiai yang sehari-hari menjadi petani tambak itu juga menguasai ilmu kanuragan / beladiri. Dia kerap dimintai orang untuk mengatasi berbagai penyakit. Namun dia tak mengharapkan imbalan. Tak dimungkiri keahlian dan keikhalasan membuat nama Mbah Mudzakir makin dikenal orang banyak. Dan hal tersebut sangat mendukung upayanya dalam melakukan syiar Islam. Pada 1950 Mbah Mudzakir meninggal dunia pada usia 81 tahun.
Alamat Makam Mbah Mudzakir
kompleks Pantai Morosari di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Kuliner di Makam Mbah Mudzakir
Sudah banyak warga yang membangun warung yang menjajakan berbagai menu makanan dan minuman di sekitar jalan menuju makam Mbah Mudzakir yang ada di tengah laut, mereka pada umumnya adalah warga sekitar yang mengais rejeki dengan mendapat keberkahan wali Mbah KH Abdullah Mudzakir.

Sunday, November 27, 2016

indahnya alam brown canyon di mranggen demak

wisata alam brown canyon rowosari demak
kemungkinana dari sekian banyak masyarakat yang sudah pernah mendengar nama Brown Canyon mereka semua mengira itu adalah sebuah nama pemandangan yang berada di luar negeri layaknya nama Grand Canyon yang ada di amerika serikat. Padahal nama dengan sebuah pemandangan yang menakjubkan ini adalah berada di desa kebonbatur, kecamatan mranggen, kabupaten demak. brown canyon ini merupakan tempat wisata alam dengan pemandangan yang sangat indah berupa tebing tebing terjal menjulang sangat tinggi sampai bisa dilihat dari kejauhan, pemandangan yang mempesona yang berada di brown canyon ini seperti halnya pemandangan yang berada di grand canyon amerika serikat.

asal usul sejarah alam Brown Canyon
tempat lokasi Brown Canyon dulunya merupakan tempat pertambangan yang bergolongan C ( golongan tanah yang berjenis batu cadas yang di gali untuk penggurukan suatu banggunan ) yang mana tempat galian tersebut tergolong tidak strategis dan sangat vital, sekarang cuma menyisakan tebing tebing yang sangat besar dan menjulang tinggi dan karena lokasinya berada di tempat perbukitan makanya sampai bisa di lihat dari kejauhan tebing tebing tersebut dan berwarna coklat seperti pemandangan yang berada di Grand Canyon amerika serikat.  Brown canyon yang berupa bukit batu cadas ini  berada di desa kebon batur, kecamatan mranggen, kabupaten demak, karena tempatnya berada di atas bukit makanya bisa di nikmati dari kejauhan, tetapi menikmati sesuatu pemandangan dari kejauhan itu senikmat ketika menikmati dari dekat karena ada sensasi yang berbeda, dan juga bisa mengagumi alam ciptaan Tuhan yang sangat mempesona indah ini.

alamat wisata alam brown canyon
alamat lokasi wisata brown canyon ini tepatnya berada di Jalan Raya Lamongan, Rowosari, Demak, Kota Semarang, Jawa Tengah 50279 atao pada titik GPS @-7.0568939,110.4857242
rute menuju wisata alam brown canyon
untuk akses menuju lokasi tempat wisata alam Brown Canyon ini sangat mudah, bila pengunjung yang berasal dari semarang kota maka mungkin bisa mengikuti rute sebagai berikut, dari semarang anda menuju arah pedurungan, sampai di pedurungan mencari arah menuju tempat lokasi pemancar tv TVRI yang berada di pucanggading mranggen, nah, lokasi Brown Canyon yang indah ini sudah bisa dilihat dari pemancar TVRI pucanggading dan hanya berjarak 500m. sedangkan untuk akses jalan menuju lokasi tempat wisata alam Brown Canyon ini sudah terbilang sangat mulus karena jalanan sebagian besar sudah cor beton dan sebagian lagi aspal dan sudah bisa dilalui kendaraan roda empat mobil.

keindahan wisata alam brown canyon
Sudah sekian tahun tempat ini di jadikan tempat wisata alam oleh pemerintah daerah dengan memberi nama Brown Canyon pada tempat ini dan lama kelamaan nama Brown Canyon semakin di kenal oleh masyarakat luas karena keindahan yang di miliki dan yang di suguhkan oleh keaslian alamnya, bahkan sering pula para fhotografer dari berbagai daerah datang kesini untuk memilih tempat ini sebagai objek background photografi-nya.
Memang tempat tempat yang pemandanganya indah selalu dicari para wisatawan bahkan para photographer pun selalu mencari tempat tempat yang mempesona makanya tidak heran lokasi wisata alam brown canyon menjadi tempat tujuan mereka untuk menyalurkan hoby mereka, di samping itu tempat yang satu ini juga tak jarang menjadi rujukan bagi orang orang yang mau menikah untuk berfoto sebagai preweding mereka, sebagaimana halnya mereka melakukan preweding di kawasan hutam mangrove.