Sunday, January 1, 2017

Kawah Sikidang Dieng Wonosobo

Kawah Sikidang Dieng Wonosobo, Wisata Unggulan di Dieng
Kota Wonosobo yaitu sebuah kota yang terdapat di jawa tengah yang berhawa sangat dingin dan juga mempunyai tempat tempat yang sangat indah mempesona, salah satu tempat yang menjadi tempat buruan para wisatawan adalah kawasan Dieng, dan di kawasan Dieng sendiri terdapat sebuah tempat yang menjadi unggulan wisata di Dieng sebut saja Kawah Sikidang. Kawah Sikidang masih termasuk di dalam kawasan Dieng Plateau, tempat wisata yang indah ini merupakan tempat wisata yang banyak diminati oleh para petualang yang datang dari berbagai wilayah untuk menikmati keindahan keseluruhan kawasan Dieng, selain Candi Arjuna dan juga Telaga Warna.

Kawah Sikidang di Dieng Wonosobo ini sudah menjadi destinasi wisata andalan di kawasan wisata Puncak Dieng Plateau, Kawah Sikidang adalah sebuah cekungan berisi kawah yang di timbulkan dari aktifitas gunung berapi yang ada di kawasan dataran Tinggi Dieng. Lokasi dari kawah Sikidang tersebut berada di tanah yang cukup datar, sehingga anda dan pengunjung yang lain dapat melihat secara langsung gumpalan asap yang di keluarkan oleh Kawah yang dinamakan Sikidang ini. Hal tersebut lah yang menjadi daya tarik tersendiri dari kawah Sikidang ini, karena para wisatawan dapat secara langsung melihat fenomena langka dan aneh yang mungkin saja tidak di temukan di tempat lain selain di Kawah Sikidang.
Namun juga sekiranya perlu di ingat bahwa seperti kawah kawah yang ada di Indonesia , Kawah Sikidang juga mengandung kandungan belerang tinggi sehingga gas yang keluar dari kawah juga mengandung belerang dan akan sangat beracun juga dapat sangat berbahaya bagi kesehatan. Untuk menjaga keselamatan para pengunjung makanya di sekitaran kawah Sikidang sudah di bangun pagar yang terbuat dari kayu, yang berfungsi sebagai penahan para pengunjung agar tidak terlalu dekat dengan lokasi cekungan kawah Sikidang, selain itu secara otomatis tidak ada yang tercebur dan terkena dampak dari gas beracun yang di semburkan kawah Sikidang ini. Untuk pencegahan dari dampak dampak tersebut sebaiknya para pengunjung tidak melewati pembatas kayu yang tersedia dan juga bawalah masker sebagai pelindung hidung supaya tidak menghirup gas beracun, apabila anda tidak ada persiapan membawa masker anda bisa membeli dikawasan parkiran, dilokasi ini banyak penjual yang menawarkan masker untuk keamanan para pengunjung.

Keistimewaan dari Kawah Sikidang Dieng Wonosobo
Seperti yang sudah di singgung bahwa Kawah Sikidang ini mempunyai keistimewaan yaitu lokasinya yang berada di sebuah tanah yang agak datar sehingga mempermudah para pengunjung untuk bisa melihat secara langsung fenomena langka dan aneh berupa letupan asap yang keluar dari kawah serta adanya gas yang muncul dari dasar kawah.
Kebiasaan dari kawah kawah yang ada di dunia keberadaannya itu di atas gunung bahkan berada di puncak gunung dan membuat kesulitan untuk bisa mencapainy dan melihatnya bahkan menikmatinya. Dan juga kebiasaan yang lain dari kawah yaitu terletak di kedalaman kubah karena itu sangat sulit untuk bisa melihatnya.
Di lokasi kawasan Kawah Sikidang ini ternyata tidak Cuma satu lokasi cekungan yang mengeluarkan kawah, hanya saja Kawah Sikidang lah yang paling terlihat jelas. Di sekitarnya terdapat beberapa kawah yang bentuknya cukup kecil serta terdapat beberapa kawah yang sudah tidak aktif, kawah kawah yang kecil kecil tersebut tempat letupannya selalu berpindah pindah kayak kelincahan Kidang dalam berpindah atau dalam bahasa Indonesia berarti (kijang).

Maka dari itu kawah yang terletak di Dieng ini oleh masyarakat sekitar di beri nama Kawah Kidang (Kawah SiKidang) seperti tingkah laku hewan Kijang. Ada juga versi lain yang menerangkan tentang asal usul Kawah Sikidang yaitu sebuah legenda Kawah Sikidang yang di hubung hubungkan dengan sering di temukannya anak dengan berambut gimbal yang sering di temukan di dataran tinggi Dieng.
Di dataran tinggi Dieng selain kawah Sikidang Dieng yang di buat untuk berwisata juga terdapat tempat wisata lain yang berupa kawah yang terletak di sekitaran kawah Sikidang yaitu Kawah Sileri dan Kawah Candradimuka
Alamat lokasi Kawah Sikidang Dieng
Kawah Sikidang berlokasi di Dataran Tinggi Dieng dan masih dalam kawasan wisata Dieng Plateau yang secara administrative masuk di dalam kabupaten kota Wonosobo, jawa tengah.
Tiket Masuk kawah Sikidang Dieng
Untuk bisa menikmati wisata alam dengan pemandangan yang sangat langka ini pengunjung akan di tarik biaya Rp 6,000.
Biaya yang sangat lah terjangkau di bandingkan dengan pemandangan yang di suguhkan oleh alam. Maka nikmatilah alam yang sudah ada dan jangan sekali kali anda merusaknya.

gunung tidar magelang "paku tanah jawa"

Misteri di balik Gunung Tidar “paku tanah jawa”
Apakah pemirsa pernah mengunjungi kota Magelang? kota yang sejuk alami yang juga merupakan daerah pegunungan. Ternyata di balik keindahan dan kesejukan kota Magelang terdapat sebuah tempat yang penuh dengan misteri dan mitos, yaitu sebuah bukit yang letaknya berada di tengah tengah kota. Bukit ini sangat terkenal karena menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI, bahkan tempat ini menjadi salah satu ikon kota magelang, namanya Bukit Tidar atau yang lebih sering di sebut sebagai Gunung Tidar. Nama ini mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga para petualang, yaitu tempat yang terdapat sebuah benda yang menyerupai tiang, dan menurut cerita benda tersebut adalah paku yang sangat besar.

Mitos dan Sejarah Gunung Tidar
Konon bukit tidar yaitu tempat yang terdapat sebuah paku besar merupakan pusat atau titik tengah pulau Jawa. Dahulu kala pulau Jawa ini masih berupa hutan belantara, rawa rawa dan tempat tempat yang sangat menyeramkan ada di tanah jawa, makanya tidak ada seorang pun yang berani tinggal di tanah jawa, karena sebagian besar pulau jawa masih di kuasai oleh makhluk halus dan makhluk makhluk sejenisnya. Konon pulau jawa yaitu pulau yang dikelilingi laut luas ini bak perahu kecil yang berada di samudra dan udh oleng bila terkena ombak laut yang besar.
Akhirnya para dewa berkumpul dan musyawarah untuk supaya tanah jawa tidak oleng ketika terkena ombak laut, dan akhirnya di putuskan untuk membuat sebuah paku raksasa, dan paku tersebut akan di tancapkan pada titik pusat tanah jawa, yaitu titik tengah yang bisa menjadikan tanah jawa ini menjadi seimbang, dan paku yang di tancapkan tersebut dipercaya sabagian masyarakat yaitu berupa gunung tidar, dan setelah paku raksasa itu di tancapkan pulau jawa mnjadi tenang dan tidak oleng lagi bila terkena hantaman ombak besar.

Dan menurut kepercayaan masyarakat sekitar pada jaman dahulu kala gunung tidar ini pada mulanya hanya ditempati oleh sosok jin dan syetan yang di pimpin oleh salah satu jin yang bernama kyai Semar. Kyai Semar ini tidak sama dengan nama semar yang ada di pewayangan, semar yang ada di gunung tidar adalah sebangsa jin yang sangat sakti dan terkenal seram dan jahat. Setiap kali ada manusia yang hendak masuk da nada niat untuk tinggal du gunung tidar maka kyai SEmar tidak akan segan untuk mengutus anak buahnya yang berupa raksasa raksasa dan juga genderuwo untuk mengusir manusia tersebut dan bahkan memangsanya.
Singkat cerita datanglah seorang yang terkenal sangat pemberani, sakti dan alim yaitu syekh subakhir ke daerah gunung tidar, syekh subakhir mengajak serta berpasang pasang manusia dan mereka lebih dahulu sampai di lokasi yang di tuju dan mereka tinggal di lokasi sebelah timur gunung tidar, yang sekarang lebih dikenal dengan nama desa Trunan, desa trunan sendiri sebenarnya berasal dari kata turunan, sebagian warga ada yang mangatakan trunan itu bermakna keturunan da nada juga yang mengartikan tempat itu diambil dari kisah yang mana sahabat sahabat syekh subakhir di turunkan untuk sementara waktu di tempat tersebut.
Setelah para pengikut syekh subakhir mempunyai tempat tinggal yaitu di desa trunan, maka syekh subakhir berangkat sendiri ke puncak gunung tidar dan melakukan semedi, dalam persemedian baliau, syekh subakhir menancapkan tombak sakti milik beliau pas ditengah tengah puncak gunung tidar sebagai penolak balak. Syekh subakhir memasang tumbal berupa paku bumi yang di tancapkan di puncak tidar, sehungga semua makhluk penghuni tempat tersebut lari tunggang langgang terbirit birit masuk ke laut. Syang yang Semar dan syang yang Togog yang mengetahui anak buahnya lari terbirit birit langsung menemui syekh subakhir untuk bernegosiasi antara manusia dan makhluk ghaib.

Mereka memita agar syekh subakhir mengijinkan bangsa jin dan kawanannya bisa hidup di tanah jawa dan begitu pula bangsa manusia hidup berdampingan, manusia bisa bercocok tanam dan berkembang biak tanpa ada ganggguan dari makhluk ghaib. Akhirnya disepakati perjanjian antara syekh subakhir, syang yang semar dan syang yang togog untuk saling hidup berdampingan serta menjaga dan menolong para raja raja di tanah jawa dan bersama sama menjaga kelangsungan hidup manusia dan semua makhluk yang ada tanah jawa.
Konon di puncak tidar, selain syang yang semar juga banyak tokoh lain yang bersemayam di tempat tersebut seperti pangeran Puboyo, kyai Wijoyo Kusumo, kyai Sepanjang, kyai Shims Lodro, dan Nyai Simo Lodro serta banyak tersimpan benda benda pusaka yang jumlahnya tidak dapat di hitung.
Dan pada akhirnya gunung Tidar sekarang di jadikan cagar budaya oleh pemerintah setempat, selain itu juga dijadikan tempat wisata religi sepiritual serta tempat ziarah, tidak ketinggalan pula dinas pariwisata kota madya Magelang juga mendirikan Tugu Kemerdekaan di puncak Tidar.

Friday, December 30, 2016

Air Terjun Sekar Langit tempat sejarah Joko Tarub

Air Terjun Sekar Langit Magelang, Sejarah Joko Tarub
Magelang adalah sebuah kota yang mempunyai sejuta tempat yang sangat indah dan menarik untuk dibuat melepaskan lelah dan capek setelah berhari hari bekerja, dan juga untuk me-refresh semua pikiran yang membuat hati terasa pusing dan galau, maka sangatlah cocok anda beserta teman teman datang ke magelang dan menikmatinya, ada satu tempat wisata di magelang yang sangat menarik untuk dikunjungi, yaitu Air Terjun Sekar Langit. Air Terjun ini berada di gunung Telomoyo yaitu sebuah gunung yang menjadi pembatas antara kota Salatiga dan kota Magelang. Sekar Langit sendiri berasal dari bahasa jawa, sekar berarti Bunga dan langit berarti langit, kalau di rankai berarti Bunga yang turun dari langit, Air Terjun ini merupakan aliran tetesan dari mata air yang berasal dari puncak gunung Telomoyo.

Air Terjun Sekar Langit mempunyai ketinggian kira kira 30 meter dan dibawah air terjun terdapat bungkahan batu batu besar yang bisa menambah pemandangan semakin menawan, selain itu dengan hawa yang dingin menyejukkan semakin melengkapi keindahan suasana di lokasi air terjun sekar langit, sedangkan aliran airnya mengalir kearah barat dan menuju ke aliran sangai Elo dan kemudian airnya akan bermuara di laut pantai selatan jawa. 
Sejarah dan Mitos Air Terjun Sekar Langit
Warga sekitar sangat menghormati dan menganggap keramat tempat lokasi air terjun sekar langit, hal ini dikarenakan ada sebuah rentetan cerita kisah dongeng klasik tentang si Joko Tarub, yaitu cerita seorang pemuda yang gagah dan tampan dengan sengaja mengintip beberapa bidadari yang sedang mandi dan kemudian mencuri selendang dari salah satu bidadari yang sedang mandi di sebuah air terjun.

Di samping menghormati dan menganggap keramat, warga sekitar juga percaya bahwa air terjun sekar langit mempunyai khasiat yang luar biasa, bisa untuk menyembuhkan segala penyakit yang ringan seperti kadas kurap dan gatal gatal bahkan sampai penyakit yang sudah di anggap kronis. Selain itu air terjun ini juga dipercaya bisa di pergunakan untuk menambah aura kecantikan bagi perempuan, yaitu dengan cara berendam dan mandi di lokasi air terjun atau bisa juga dengan membasuh muka saja dengan air terjun. Ada pula yang beranggapan bahwa air terjun ini bisa berkhasiat mengencangkan payudara perempuan dan menambah padat, berisi dan lebih kencang, yaitu dengan cara mengucurkan air terjun yang jatuh langsung terkena bagian utama identitas kewanitaan tersebut secara langsung atau bisa dengan diserempet serempetkan dan dilakukan sambil mandi. Yang menjadi syarat terpenting dari kegiatan mitos ini adalah  air terjunnya harus mengenai payudara langsung jatuh dari atas sebelum sampai menyentuh bumi.
Bahkan ada mitos lain bagi sebagian orang yang sulit mendapatkan jodoh terkhusus kaum pria, tempat Air Terjun Sekar Langit juga bisa menjadi alternatif lain setelah sekian lama mencari jodoh tidak kunjung jua, karena tempat Air Terjun Sekar Langit ini dipercaya dan sering dijadikan tempat untuk melakukan ritual agar supaya keinginannya mendapatkan jodoh segera tercapai. Ritual untuk segera mendapatkan jodoh bagi kaum pria biasanya dilakukan dengan bermeditasi pada tengah malam dan itu harus pada malam jumat kliwon ataupun malam selasa kliwon, yaitu dengan cara membakar dupa atau kemenyan sambil bersila menghadap kearah timur laut. Dan biasanya tempat yang dipilih untuk melakukan itu semua adalah di atas batu besar berdiameter sekitar 5 meter yang terletak di sebelah selatan Air Terjun, konon menurut cerita tempat inilah Joko Tarub mengintip para Bidadari yang sedang mandi dan tempat ini menjadi tempat yang paling makbul (diterima hajatnya).

Alamat lokasi Air Terjun Sekar Langit
Air Terjun Sekar Langit beralamat di desa Telogorejo, kecamatan Grabag, kabupaten Magelang, Jawa Tengah
Rute Menuju Lokasi Air Terjun Sekar Langit
Untuk bisa sampai di lokasi Air Terjun Sekar Langit ini bisa di akses dengan memakai dua jalur, jalur yang pertama dari Semarang menuju Salatiga dilanjutkan menuju lokasi wisata kopeng, sebelum sampai di Kopeng tepatnya di desa Getasan anda harus belok kanan hingga sampai dipintu gerbang Air Terjun Sekar Langit, jarak Kopeng ke Air Terjun Sekar Langit sekitar 5 km dapat menggunakan kendaraan pribadi baik kendaraan roda dua ataupun kendaraan roda empat dengan kondisi jalan sudah baik beraspal, akan tetapi sedikit licin dan diharapkan para pengendara untuk berhati hati.
Jalur Yang kedua anda bisa menggunakan jalur magelang, yaitu dari kota Magelang menuju kecamatan Grabag dilanjutkan menuju dusun dalangan, desa pandean ngablag yaitu tempat gerbang pintu masuk, dari grabag dengan menyusuri perbukitan hingga sampai di gerbang pintu akan memakan waktu kurang lebih 15-20 menit. Setelah sampai di pintu gerbang anda bisa parkirkan kendaraan di sekitar pintu gerbang. Selanjutnya dari gerbang pintu tersebut untuk menuju lokasi Air Terjun Sekar Langit berjarak 500 meter dengan melalui jalan setapak dan juga jembatan dan akan melewati hutan pinus, disepanjang jalan anda akan menemukan papan pengumuman yang ditempelkan di pohon-pohon untuk mengingatkan para pengunjung agar bilamana hujan tiba pengunung harus keluar dari lokasi. Hal tersebut diumumkan karena sering terjadi air bah yang datang dari hulu bila turun hujan lebat, selain itu juga ada larangan turun ke sungai dan mandi bilamana saat hujan turun.
Parkiran dan Tiket Masuk ke Air Terjun Sekar Langit
Untuk masuk ke lokasi wisata Air Terjun Sekar Langit pengunjung harus membayar tiket sebesar Rp 2,000 untuk motor dan Rp 3,000 untuk mobil.

Telaga Warna Dieng, keistimewaan Wonosobo

Telaga Warna Dieng, Tempat Wisata Alam di Dieng Wonosobo

Kabupaten Wonosobo jawa tengah memang mempunyai banyak sekali tempat tempat yang semuanya indah dan disana pun selalu menyajikan pemandangan yang mempesona, sebut saja salah satunya adalah Telaga Warna, telaga ini merupakan tempat andalan yang di miliki oleh Dieng wonosobo, jawa tengah. Telaga atau Danau ini bernama telaga warna pun bukan tanpa alas an, yaitu karena airnya meiliki warna yang bisa berubah warna, terkadang berwarna kuning, berwarna hijau bahkan pelangi. Hal ini dikarenakan di dalam danau terdapat kandungan sulfur yang cukup banyak dan semasa tersorot sinar matahari maka airnya akan terlihat berubah warna.

Telaga warna ini merupakan telaga yang sangat luas dibandingkan telaga yang lain yang ada di dataran tinggi tersebut seperti danau pengilon, danau merdada dan danau danau yang lain, sedangkan luasnya telaga warna bisa mencapai 3 kali lapangan sepak bola bahkan lebih luas lagi. Telaga warna di Dieng terletak di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, dan tempat tempat disekelilingnya juga tidak kalah indahnya yaitu berupa bukit bukit yang menjulang tinggi dengan Susana tentram dan nyaman sangat cocok untuk di jadikan tempat refreshing, jika pengunjung ingin mendapatkan sensasi yang berbeda pengunjung bisa menaiki bukit yang ada di sekitar telaga warna, dan dari sekian bukit yang paling populer adalah bukit ratapan angina, dari atas bukit ini pengunjung bisa menikmati telaga warna sambil duduk santai diatas batu. Untuk waktu yang direkomendasikan  bila mengunjungi talaga warna adalah pada waktu siang hari, soalnya bila anda mengunjungi tempat ini pada waktu sore maka bisa dikatakan anda akan menyesal tidak bisa melihat telaga yang berwarna dan mungkin lokasi ini akan diselimuti kabut, maka apabila anda berkunjung pada pagi hari sampai siang dan matahari sangat terik itulah saat yang pas untuk menikmati telaga yang bisa berubah warnanya.

Selain terdapat telaga warna yang indah, ternyata disekitar area telaga juga terdapat beberapa Goa yang mungkin bisa anda nikmati sekalian, diantaranya yaitu Goa Semar, Goa Sumur Eyang Kumalasari, Goa Pengantin, dan Goa Jaran. Banyak keunikan yang terdapat di masing masing Goa, misalnya Goa Semar yang didalamnya terdapat sebuah sumur yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan bisa membuat awet muda bahkan kulit akan menjadi halus, dan lagi didepan Goa terdapat patung Semar sedang membawa sebuah kendi
Mitos dan Sejarah Telaga Warna
Pada dahulu kala, ada seorang Prabu Swartalaya dan permaisuri Purbamanah, mereka berdua menjadi pemimpin sebuah kerajaan Kutatanggeuhan yang damai, adil, makmur dan sejahtera karena mereka berdua memimpin rakyaknya dengan bijaksana dan adil.

Mereka hidup dengan bahagia tetapi ada hal yang mengganjal di pikiran sang Ratu, karena hidup bersama sang raja sudah sekian tahun belum juga di karuniai anak, oleh sebab itu sang Ratu sering menangis dan Rajapun ikut sedih melihat ratunya menangis, akhirnya sang raja memutuskan pergi ke hutan untuk melakukan ritual dan bedoa agar supaya lekas dikaruniai seoarang anak, dan akhirnya benar selang beberapa bulan sang ratu pun hamil dan hal ini disambut gembira oleh sang raja dan rakyat.
9 bulan kemudian sang ratu melahirkan seorang putri yang sangat cantik yang diberi nama Gilang Rukmini, karena putri ini adalah putri yang sangat di tunggu tunggu oleh sang prabu dan ratu, maka mereka pun sangat sayang kepada putri Gilang Rukmini, dan apapun yang dimintanya pasti akan di turuti dan hal itu malah justru membuat sang putri menjadi anak yang sangat manja, apabila keinginannya tidak terpenuhi sedikit saja maka putri pun tidak sungkan untuk marah besar, walaupun sifat anaknya seperti itu raja dan ratu masih tetap menyayanginya.
Bulan berganti bulan tahun pun berganti tahun, dan sampailah akhirnya sang putri menginjak usia yang ke 17, mengetahui putrinya akan berulang tahun yang ke 17 maka sang raja akan menyiapkan hadiah untuk sang putri diambillah batangan emas dan dibawa ke tukang emas untuk dibuatkan sebuah kalung yang sangat cantik, masyarakat pun tidak mau ketinggalan mereka ramai menghampiri kerajaan untuk memberikan hadiah kepada putri.
Hari ulang tahun pun tiba saatnya, seperti kebiasaan dari tahun tahun sebelumnya para warga berkumpul di alun alun untuk menyambut kehadiran sang putri yang sangat cantik, setelah sang putri hadir dan sang raja langsung berdiri menyambut sang putri dan bersiap untuk memberikan kalung yang indah sebagai hadiah ulang tahunnya, tetapi tidak disangka sang putri malah melemparkan kalung tersebut ke tanah dan menolaknya dan berkata “ kalung ini jelek aku tidak mau” sembari melempar kalungnya.
Melihat perilaku putri yang diidam idamkan, sang prabu beserta sang ratu dan semua penduduk kecewa dan semuanya menangis hingga air mata tangisan mereka membanjiri alun alun kerajaan, hingga akhirnya terbentuklah sebuah danau yang indah nan cantik dan berwarna warni airnya.
Alamat Lokasi Telaga Warna Dieng
Wisata alam Telaga Warna ini berlokasi di dataran tinggi Dieng wetan, kabupaten Wonosobo, jawa tengah.
Rute menuju Telaga Warna Dieng
Bagi pengunjung yang ingin menuju ke wisata Telaga Warna, dan apabila anda menggunakan jasa transportasi umum maka terlebih dahulu menuju ke kota wonosobo, dan ketika sudah sampai di kota wonosobo carilah terminal bus yang berada di deket RSUD Setjonegoro yang dahulu merupakan stasiun kereta api, setelah sampai di terminal tersebut maka lanjutkan perjalanan dengan naik bus jurusan Wonosobo – Dieng dan turunlah di pertigaan Dieng, lokasi Telaga Warna berjarak kurang lebih 500 meter dari pertigaan, anda pun bisa berjalan kaki atau bisa naik ojek disekitar pertigaan yang siap mengantarkan anda sampai tujuan.
Dan bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi maka anda cukup dengan cara datang ke kota wonosobo dan menuju ke alun alun kota, di sekitar alun alun ada papan petunjuk jalan menuju Dieng, ikuti saja jalan tersebut dan anda akan sampai di pertigaan Dieng, lepas itu belokkan kendaraan kekiri dan sampailah anda di tempat wisata alam Telaga Warna.
Tiket Masuk Telaga Warna Dieng
Untuk bisa menikmati alam yang sangat mempesona ini dan merasakan suasana sekitar Telaga Warna maka para pengunjung akan di kenai biaya masuk Rp 7,000 /orang, dan bagi yang membawa mobil akan ada biaya tambahan untuk parkir sebesar Rp 5,000 dan untuk motor sebesar Rp2,000.

Thursday, December 29, 2016

keberagaman Candi-candi di dataran Tinggi Dieng Wonosobo

Candi-Candi di Dataran Tinggi Dieng Wonosobo
Di dataran tinggi Dieng terdapat sebuah komplek yang di penuhi candi candi yang brasal dari agama Hindu – Siwa, komplek ini terletak di tanah dengan ukuran panjang mencapai 1 km dan lebar mencapai 0,8 km, di lokasi sekitar komplek candi ini terdapat sebuah danau yang terkenal dengan nama Bale Kambang dan agar airnya tidak terlalu penuh maka di area danau terdapat saluran pipa yang disebut dengan saluran Aswatama yang mana sebagian saluran tersebut terdapat di dekat candi arjuna, di arah sebelah utara terletak sebuah gunung prahu dan dari arah gunung tersebut terdapat aliran sungai Tulis yang mengalir kearah selatan dan masuk ke dalam dataran Tinggi Dieng.

 Dieng merupakan sebuah kompleks candi yang berasal agama Hindu-Siwa, terletak di tanah dataran tinggi Dieng (Dihyang), dengan ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut, berukuran panjang 1 km dan lebar 0,8 km. Di sebelah utara terletak Gunung prahu dan dari arah gunung ini mengalir Sungai Tulis ke arah selatan, masuk ke dataran tinggi Dieng dan dahulunya membentuk semacam danau yang dikenal dengan nama Bale Kambang. Agar air tidak terlalu penuh terdapat saluran berupa pipa yang disebut Saluran Aswatama yang sebagian ditemukan di dekat Candi Arjuna.
Candi candi yang ada di kawasan komplek dataran Tinggi Dieng sekarang berjumlah sekitar delapan buah, dan candi candi tersebut kemungkinan berasal dari abad 8 – 10 masehi karena terdapat sebuah prasati yang ditemukan di dalam komplek yang bertuliskan tahun 713 saka atau tahun 809 mesehi, namun ada sebuah indikasi bahwa candi candi tersebut usianya lebih tua dari tahun yang tertera dilokasi.
Candi candi yang terdapat di komplek dataran Tinggi Dieng semuanya diberi nama sesuai dengan nama tokoh tokoh pewayangan, yaitu candi Arjuna, candi Semar, candi Srikandi, candi Purtadewa dan candi Gatotkaca. Kalau melihat nama nama tersebut jelas bukan  nama tokoh Mahabharata india karena memang didalamnya juga termasuk nama punakawan Semar, hal tersebut berarti nama nama candi yang ada di kawasan tinggi Dieng adalah bukan nama asli dari candi tersebut.

Candi Dieng, Warisan Kerajaan Abad ke 7
Dari warisan Dinasti Sanjaya sampai sekarang ini masih bisa anda nikmati bangunannya di dataran tinggi Dieng Wonosobo, dahulu masih banyak bangunan candi hampir 400 bangunan candi pernah berdiri di tempat yang terkenal dengan julukan Negeri para Dewa ini, sehingga Dataran Tinggi Dieng dan kumpulan candi candi yang terdapat dikomplek ini disebut juga komplek Candi Hindu Jawa. Berdasarkan dari prasasti yang terdapat di situs Dieng, candi candi tersebut di perkirakan di bangun pada abad ke 8 m sampai abad ke 13 m, sebagai wujud kebaktian pada jaman dahulu kepada Dewa Syiwa dan Sakti Syiwa (istri Syiwa).
kalau melihat dari 21 bangunan yang ada di kawasan Dieng maka Candi Dieng terbagi menjadi 5 kelompok dan 4 kelompok bangunan Ceremonial Site ( tempat pemujaan ) yaitu:
Kelompok Candi Arjuna (pandawa 5)
Kelompok Candi Gatotkaca
Kelompok Candi Bhima
Kelompok Candi Dwarawati / Parikesit
Kelompok Candi Magersari
Kelima kelompok candi yang ada di kawasan komplek adalah bangunan tempat tinggal (settlement site) yang mana sisa sisa puingnya masih bisa di lihat oleh para pengunjung disekitaran komplek Candi Arjuna.

penemuan baru Candi Setyakti
sebagaimana candi candi yang terdapat di tanah jawa, candi Dieng juga mempunyai corak Hindu Syiwa, di lihat dari sebuah penemuan prasasti di dalam komplek dan disitu terdapat angka tahun 713 saka atau sama dengan tahun 809 masehi sehingga memungkinkan candi yang terdapat dilokasi komplek dataran tinggi Dieng berasal dari abad viii-ix, namun selain itu juga memungkinkan adanya persepsi lain bahwa candi dieng lebih tua sedikit masuk pertengahan abad delapan (viii).
Seperti yang disebut diatas bahwa candi candi di Dieng mempunyai nama tokoh pewayangan seperti Arjuna, candi Semar, Candi Srikandi, candi Untadewa, candi Sembadra, candi Bima, candi Dwarawati, candi Gatotkaca, dan nama nama tersebut sudah jelas bukan Saduran tokoh Mahabharata, ada salah satu candi yang bernama tokoh Punakawan taitu Candi Semar.
Deskripsi dan Kronologi Candi Dieng
Mengenai seluk beluk candi Dieng pernah disinggung dalam buku Inleiding tot de Hindoe- javaansche Kunst tahun (1923) karya N.J.Krom. di dalam bukunya N.J.Krom mengupas tentang seputar kronologi candi candi di jawa tengah berdasarkan ragam hias kala-makarannya.
Ada juga penulis lokal yang pertama kali mengupas tuntas tentang candi Dieng dia adalah Soetjipto Wirjosuparto, dalam bukunya Sedjarah Bangunan Kuna Dieng (1957) dia mengatakan bahwa komplek Dieng ini pertama kali dikunjungi pada tahun 1814 oleh H.C.Cornelius, dan menurut laporanya dataran Dieng dulunya masih berupa danau dan sebagian dari candi ada yang terendam air, baru pada tahun 1856 airnya di alihkan sehingga lokasinya menjadi kering kemudian oleh J.Van Kinsbergen membuat gambar candi candi ini, kalau dilihat sepintas memang candi di Dieng sangat mirip dengan Kuil kuil di India, tetapi bila dilihat lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang mencolok.
Ada ciri ciri umum pada candi candi di Dieng, yaitu berdenah bujur sangkar, dan memiliki tiga bagian candi, yakni kaki-tubuh-atap. Pengecualian ada pada candi Semar, candi ini berdenah empat persegi panjang dan atapnya tidak menjulang tetapi berbentuk Padma (sisi genta) tidak sama dengan  candi-candi lainnya.



Tuesday, December 27, 2016

kemegahan Candi Borobudur di Magelang

CANDI BOROBUDUR Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Mahakarya Abad ke-9
Magelang merupakan sebuah kabupaten yang mempunya tempat wisata yang sangat banyak sekali dan selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan sedangkan tempat wisata yang paling banyak di buru oleh para wisatawan adalah Candi BOROBUDUR.

Candi Borobudur merupakan bangunan  mahakarya monumen Buddha termegah dan merupakan kompleks stupa terbesar di Dunia yang sudah di akui UNESCO. Secara keseluruhan bangunan Candi Borobudur adalah suatu karya pemahat batu yang menjadi galeri yang sangat melegenda dan karya para pemahat batu itu yang menjadi mahakarya para pemahat jaman dahulu.
Bangunan Candi Borobudur di bangun jauh sebelum bangunan Angkor Wat di Kamboja bahkan bangunan Katedral-katedral agung yang ada di eropa. Candi Borobudur sudah berdiri megah di tanah jawa, bangunan candi Borobudur ini sudah di akui oleh UNESCO sebagai bangunan monumen terbesar dan kompleks stupa termegah di Dunia, sudah semenjak pertengahan abad ke 9 bahkan sampai awal abad 11 bangunan Candi Borobudur ini sudah ramai dikunjungi oleh para peziarah yang datang dari berbagai belahan dunia seperti india, Tibet, kamboja, dan cina terkhusus umat yang beragama Buddha yang berasal dari Negara-negara tersebut yang ingin mendapatkan pencerahan seputar keagamaan mereka datang ketempat Candi Borobudur. Candi Borobudur tidak hanya besar dan megah tetapi disetiap dinding yang berupa panel relief mencapai 2672 buah pahatan yang kesemuanya jikalau disusun bersejajar akan mencapai panjang 6 km, sungguh suasana karya yang sangat menakjubkan hal ini mendapat pujian sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan juga terlengkap di dunia dan terdapat nilai seni yang tak tertandingi.
Relief yang terdapat di dinding candi terbagi menjadi 4 kisah utama yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Aswadana serta Gandawyuda. Selain menerangkan perjalanan hidup sang Buddha dan ajaran-ajarannya, dengan adanya candi tersebut juga bisa diartikan rekaman kemajuan masyarakat pada masa itu, pada waktu itu bangsa ini sebenarnya sudah pandai berlayar dan membuat kapal terbukti di sebagian relief ada bangunan kapal, salah satu relief kapal dicandi Borobudur dijadikan model dalam membuat replika kapal yang digunakan untuk mengarungi the Cinnamon Route dari jawa menuju Afrika, saat ini replika kapal yang disebut tadi sebagai kapal Borobudur sudah disimpan di Museum Samudra Raksa.
Untuk bisa mengikuti alur cerita kisah yang tertera di dinding candi maka pengunjung wajib berjalan menelusuri candi searah jarum jam atau yang dikenal dengan istilah pradaksina. Masuk kecandi dari pintu timur dan berjalan searah jarum jam sehingga posisi pahatan selalu berada di sebelah kanan hingga sampai dipintu semula dan melangkahkan kaki untuk naik ketingkat berikutnya, hal ini dilakukan berulang kali hingga semua tingkat bisa terlalui dan bisa sampai dipuncak candi yang berbentuk stupa induk. Setelah sampai dipuncak rasakan sensasi yang berbeda dan anda bisa layangkan pandangan disekeliling candi maka anda akan melihat beberapa gunung yang mengitari candi ini seakan gunung gunung tersebut seolah olah menjadi penjaga dan membentengi candi Borobudur.

SEJARAH BERDIRINYA CANDI BOROBUDUR
Berdasarkan prasasti yang tertera di Kayumwungan yang tertanggal 26 mei 824, candi Borobudur dibangu oleh raja Samaratungga antara abad ke 8 sampai abad ke 9, bersamaan dengan pembangunan candi Mendhut dan Candi Pawon, sedangkan proses pembangunan candi Borobudur berlangsung selama kurang lebih 75 tahun dibawah komando arsitek Gunadarma, meski belum mengenal alat yang canggih tetapi arsitek ini bisa menerapkan system interlock dalam pembangunan Candi. Pembangunan ini menggunakan sebanyak 60,000 meter kubik batu andesit dan berjumlah 2,000,000 batu balok yang diusung dari sungai Elo dan Progo kemudian dipahat dan dirangkai menjadi puzzle raksasayang akan menutupi sebuah bukit kecil dan akhirnya menjadi sebuah candi Borobudur yang megah.
Borobudur tidak hanya mempunyai nilai seni yang tinggi tetapi juga menjadi bukti peradaban manusia pada masa itu, karya agung ini penuh syarat akan filosofis, yaitu memakai konsep mandala yang merupakan lambang kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu yang pertama dunia hasrat atau nafsu (kamadhatu), kedua dunia betuk (rupadhatu) dan ketiga dunia tanpa bentuk (arupadhatu). Apabila candi ini dilihat dari ketinggian maka bangunan candi ini akan menyerupai ceplok teratai diatas bukit, dinding candi yang ditingkatan kamadhatu dan rupadhatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkatan arupadhatu sebagai benang sarinya, dan stupa induk melambangkan sang Buddha, sehingga secara keseluruhan candi Borobudur melambangkan Budha yang sedang duduk diatas kelopak bunga teratai.
Bila ingin menikmati keseluruhan pemandangan yang indah dan nilai sejarahnya tidak cukup hanya dengan menyusuri semua tingkatan sampai atas stupa, tetapi ada satu pemandangan yang tidak kalah menariknya yaitu menikmati sunset dan sunrise dari atas Candi. Sinaran matahari yang keluar dari peradabannya dan waktu matahari akan terbenam tanda bergantinya siang ke malam dengan suasana yang sangat menyejukkan jiwa.
10 CANDI YANG TERDAPAT DI SEKITAR CANDI BOROBUDUR 
Candi Ijo
Candi Barong
Istana Ratu Boko
Candi Plaosan
Candi Prambanan
Candi Borobudur
Candi Tara
Candi Pawon
Candi Mendut
Candi Sambisari
TIKET MASUK KE CANDI BOROBUDUR
Bagi pengunjung yang ingin menikmati semua keindahan pemandangan dan semua nilai sejarah yang dikandung Candi Borobudur Magelang harus membayar tiket sebesar Rp 30,000 /dewasa, dan Rp 12,000 /anak-anak. Tetapi bagi pengunjung yang datang dari mancanegara atau wisata asing dipatok harga U$D 20 WNA /orangnya.
Sedangkan untuk waktu jam buka, wisata alam mahakarya arsitek abad 9 dibuka setiap hari mulai jam 06,00 – 17,00 WIB.

Monday, December 26, 2016

danau istimewa bandung Situ Patenggang

Situ Patenggang Danau Indah Di Bandung
Kota Bandung memang memiliki banyak tempat yang indah dan mempesona, kota yang berjuluk kota kembang ini mempunyai tempat wisata yang berbentuk danau yang menyajikan pemandangan yang menawan, sebut saja Danau Situ Patenggang. Danau Situ Patenggang ini terletak di kota bandung selatan, jawa barat, lebih tepatnya di lokasi ciwidey. Danau Situ patenggang merupakan tempat wisata yang cukup terkenal di Bandung karena Danau ini memiliki alam yang sangat eksotis dan di bantu dengan cuaca hawa dingin membuat suasana lebih nyaman menentramkan jiwa, dengan keberadaan danau yang berada di kisaran ketinggian 1600 meter di atas permukaan air laut menjadikan lingkungan sekitar danau sesekali di selimuti kabut apalagi pada waktu sore hari menjelang malam dan sampai pagi hari hawa di lokasi akan semakin dingin menyejukkan, dengan hamparan kebun teh yang ada di sekitar lokasi Danau membuat pemandangan semakin mempesona indah.

Selama perjalanan untuk menuju lokasi Danau Situ Patenggang para pengunjung akan di suguhi pamandangan hamparan kebun teh yang sangat luas. Sedangkan luas Danau Situ Patenggang sekitar 45,000 hektar, serta mempunyai luas mencapai 123.077,15 hektar dari total keseluruhan cagar alamnya. Dan Danau Situ Patenggang sering menjadi pilihan berikutnya bagi para wisatawan datang ke Bandung setelah mereka menikmati keindahan Kawah Putih, karena jarak dari kawah putih menuju danau Situ Patenggang hanya 7 km dan perjalanan memakan waktu sekitar 10 menit saja, makanya para pengunjung tidak mau melewatkan tempat wisata alam yang ada di kota bandung satu sama lain.
Sejarah dan Mitos danau Situ Patenggang

Selain keindahan wisata alam Danau Situ Patenggang yang sudah menyebar luas di pelosok kota bandung terutama bahkan sampai di jawa barat pada umumnya, ternyata Danau ini menyimpan sejarah yang teramat mengesankan. Sesuai yang tertera di lokasi wisata sekitar Danau, nama Danau ( Patenggang ) berasal dari bahasa Sunda  atau biasa di sebut Pateangan-teangan ( saling mencari ). Asal mula dari nama tersebut di kisahkan pada jaman dahulu hidup seorang putra Prabu yang bernama ki Santang, dia mencintai seorang Putri titisan Dewi yang bernama Dewi Rengganis, mereka berdua hidup bersama alam untuk sekian tahun sampai dewasa. Kemudian mereka berpisah satu sama lain untuk beberapa tahun, karena cinta mereka yang ibaratnya cinta sampai mati maka mereka saling mencari kesana kemari, dan pada akhirnya mereka saling bertemu kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang nama tersebut di abadikan dan di beri nama “Batu Cinta”. Setelah mereka bertemu Dewi Rengganis pun meminta kepada Ki Santang untuk di buatkan sebuah Danau dan perahu untuk membuktikan cinta mereka berdua dan bisa berlayar berdua.
Menurut cerita yang beredar di masyarakat perahu yang di buat berlayar mereka berdua itulah sekarang menjadi sebuah Pulau yang berbentuk Hati, dan bernama ( Pulau Asmara / Pulau Sasaka). Dan menurut mitosnya, barang siapa para wisatawan yang singgah di Batu Cinta tersebut dan mengelilingi Pulau Asmara, maka dia akan senantiasa mendapatkan Cinta yang abadi sampai mati seperti dalam kisah.
Alamat Danau Situ Patenggang Bandung
Wisata Situ Patenggang berlokasi di jalan ciwidey – rancabali, desa patengan, kecamatan Rancabali, kabupaten Bandung, 40973. Atau pada GPS : S7.163690 - E107.357070, Altitude 1605 meter.
Rute menuju lokasi Danau Situ Patenggang
Ada beberapa jalur untuk menuju wisata Situ Patenggang, baik itu dari Jakarta ke situ Patenggang atau dari bandung ke Situ patenggang. Jarak antara bandung kota sampai situ patenggang yaitu 48,3 km, atau dalam perjalanan akan memekan waktu 1,25 menit. Sedangkan jarak dari Jakarta pusat ke Situ Patenggang Bandung yaitu kurang lebih 203 km  atau dalam perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam lebih 5 menit.
Ada beberapa rute yang biasa di lewati para wisatawan yang datang dari Jakarta ke bandung atau dari bandung ke situ patenggang.
Rute perJalanan dari Jakarta ke Pantenggang:
Dari Jakarta menuju Cipularang diteruskan menuju Pintu Tol Kopo dilanjutkan ke Soreang lalu arah Ciwidey sampai menuju ke Patengan / Patenggang
Atau dari Jakarta bisa menuju Cipularang lalu ambil arah Tol Buah Batu  kemudian nambil arah Banjaran setelah sampai ambil lagi arah Soreang  dilanjutkan lagi sampai Ciwidey barulah sampai di Patengan / Patenggang
Atau juga bisa lewat Jakarta munuju Cipularang arah Leuwi Gajah kemudian menuju Soreang lalu bisa sampai di Ciwidey setelah itu baru sampai Patengan / Patenggang
Rute Jalan dari Jakarta ke Patenggang Apabila menggunakan kendaraan umum dari Jakarta, anda bisa menggunakan bus jurusan Leuwi Panjang Bandung. Dari leuwi kemudian perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan jurusan Leuwi Panjang menuju Ciwidey. Dari terminal Ciwidey, ada angkutan kota dengan jalur menuju Patenggang.
Tiket masuk ke Danau Situ Patenggang
Untuk bisa merasakan keindahan wisata Situ Patenggang anda di kenakan biaya Rp 18,000 /orang pada hari weekday dan biaya Rp 20,500 /orang pada hari weekend.
Dan untuk biaya parkiran kendaran adalah Rp 22,000 /bus dan untuk kendaraan roda empat Rp11,000 /mobil dan untuk motor Rp 3,500 /motor.
Penginapan di sekitar Danau Situ Patenggang
Terdapat penginapan di area wisata Danau Situ Patenggang yang semuanya di bawah pengawasan pengelola perhutani, bagi para wisatawan yang sudah capek dan lelah dan indin menginap bisa menyewa penginapan. Selain itu di lokasi sekitar danau terdapat juga gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai bersama keluarga dan juga bisa beristirahat di sekitar obyek wisata.