Monday, June 12, 2017

Simpang Lima semarang, ikon kota semarang

Alun alun Simpang Lima Kota Semarang
Simpang lima adalah salah satu tempat yang selalu ramai di kunjungi oleh pengunjung dan sudah menjadi ikon bagi kota Semarang. Tempat ini juga merupakan alun-alun yang berada di tengah-tengah persimpangan Jl. Pandanaran di sebelah barat, Jl. A. Yani di sebelah timur, Jl. Gajahmada dan Jl. Pahlawan di sebelah timur, sementara disebelah timur laut ada Jl.KH. Ahmad Dahlan.
Kemudahan akses serta banyaknya hotel dan tempat kuliner di kawasan tersebut membuat Simpang lima menjadi tempat wisata yang banyak di tuju oleh pemuda pemudi serta keberadaannya di jantung kota atau pusat keramaian di kota Semarang membuat lokasi ini semakin banyak di gemari masyarakat.

Sejarah Simpang Lima
Setelah Semarang tidak memiliki alun alun karena lokasi yang dahulu untuk mengembangkan pusat bisnis pasar Johar dan sekitarnya, akhirnya Semarang membuat alun alun lagi di kawasan yang setrategis (Simpang Lima sekarang), demikian juga dengan kantor pemerintahan kota semarang pun mulai digeser ke lokasi ini. 
Pusat Kota Semarang pada tahun 1965 mulai bergeser dari daerah Alun alun (komplek pasar Johar) ke arah selatan ke kaki-kaki bukit Candi. Hal ini dikarenakan ada dorongan dari Presiden RI Ir Soekarno yang mengatakan, bahwa Semarang harus mencari alun alun baru sebagai pengganti alun alun lama yang tergusur.
Setelah melakukan survey ternyata lokasi yang paling cocok untuk membuat alun alun baru, adalah kawasan daerah ujung seteran (sekarang Jl. Gajahmada) ke arah kaki bukit Candi. Oleh sebab waktu itu daerah tersebut  masih luas dengan hamparan sawah sawah dan hanya ada satu perempatan yaitu Jl. Seteranterus ke jalan Oei Tiong Ham (sekarang Jl. Pahlawan) dan ke Barat dan Timur terdapat jalan Pandanaran (dahulu Hoogerraadslaan weg dan Pieter Sijthofflaan weg).
Proyek tersebut mulai dikerjakan pada tahun 1965, dan selesai pada tahun 1969, dan alun alun ini diberi nama “SIMPANG LIMA” disebabkan perempatan menjadi 5 arah jalannya, yaitu ditambah jalan K.H. Achmad Dahlan.

Di Simpang Lima ini terdapat lapangan besar yang yang oleh masyarakat disebut juga dengan Lapangan Pancasila. Alun alun yang dahulu dimiliki Semarang sejak masa pemerintahan Adipati Semarang yang pertama itu kini telah berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan (pasar johar). Sedangkan keberadaan lapangan Pancasila berfungsi sebagai tempat upacara pada hari-hari besar.
Bukan hanya ramai di kunjungi warga sekitar untuk menghabiskan malam minggu dan hari libur, tetapi Simpang Lima juga ternyata sering menjadi tempat berlangsungnya pertunjukan musik maupun seni budaya, tempat rekreasi, bahkan sebagai pasar tiban pada waktu-waktu tertentu. Berbagai jenis makanan baik makanan berat maupun makanan ringan dijual dengan gaya lesehan mengambil tempat sekitar trotoar dan sekeliling alun-alun.
Kuliner dan Souvenir di Simpang Lima Semarang
Untuk urusan perut ketika berada di lokasi Simpang Lima Semarang ini anda dn keluarga tidak usah khawatir karena semua jajanan berbentuk apapun baik yang berjenis makanan ringan maupun makanan berat semua tersedia di lokasi ini.
Keramaian Simpang Lima Semarang ini bisa anda temui ketika malam hari terutama hari sabtu sore atau malam minggu, serta hari minggu pagi di lokasi alun alun Simpang Lima ini banyak orang yang menghabiskan waktu untuk week end bersama keluarga maupun sahabat dekat. Sementara itu berbagai souvenir, alat sekolah sampai alat rumah tangga, sandal sampai hiasan rambut, semuanya juga dijual di area alun-alun Simpang Lima semarang.


bukit Gombel di semarang, wisata romantis di puncak semarang

Bukit Gombel, Identik Wisata Menyeramkan

Bagi warga Kota Semarang dan sekitarnya, sebutan kata (Bukit Gombel) rasanya sudah tidak asing lagi bagi mereka, tempat ini menurut kebanyakan dari warga semarang adalah tempat yang menyeramkan. Tetapi di samping itu ternyata tempat ini menyimpan potensi destinasi wisata yang menyenangkan. Warga sematang menyebut wilayahnya meliputi istilah Semarang atas dan Semarang bawah hal ini mengacu pada keadaan wilayah yang berbeda di Semarang yang mempunyai ketinggian yang berbeda pula.
Semarang bagian bawah meliputi wilayah dimana pusat penataan kota berada seperti Simpang lima, Jalan Pahlawan, Kota Lama dan masih banyak lagi. Sementara itu wilayah semarang bagian atas didominasi oleh perbukitan Gombel, Undip Tembalang, Banyumanik hingga sampai Ungaran Semarang.
Perbedaan ketinggian tersebut membuat dari sekian banyak titik di kota ini menjadi salah satu pusat destinasi favorit. Sebut saja Taman Tabanas di kawasan Bukit Gombel.
Taman Tabanas ini berada di perbukitan, membuat Taman Tabanas ini menyajikan indahnya pemandangan Kota Semarang dari ketinggian apalagi kalau anda mengunjungi tampat ini pada malam hari akan terlihat lebih romantis melihat gemerlap lampu di seluruh kota semarang.
Keangkeran di Bukit Gombel
Selain terkenal dengan keindahan yang di suguhkan dari bukit gombel ini, ternyata bukit yang indah menawan ini menyimpan banyak sekali cerita mistis dan angker, berbagai kejadian yang ganjil pernah terjadi di wilayah bukit gombel. Di samping itu penampakan penampakan yang menyeramkan juga tidak bisa di pisahkan dari kata Gombel.

Malam hari adalah waktu favorit bagi pengunjung di Taman Tabanas terkhusus anda yang masih merasa muda mudi. Di waktu malam lah, gemerlap cahaya kota semarang akan terlihat begitu indah dari tempat ini. Selain dapat bersantai menikmati pemandangan view kota Semarang, disini juga terdapat fasilitas hiburan dan kuliner.
Kebanyakan pengunjung yang datang ketempat ini adalah untuk melihat pemandangan yang indah, terlebih kota semarang dapat terlihat dari lokasi ini. Di titik ini juga dikenal sebagai puncaknya Kota Semarang, karena dari tempat ini semua penjuru kota semarang akan terlihat keindahanya dengan jelas. Selain pemandangan, pengunjung juga bisa datang hanya sekedar ingin bersantai, duduk duduk bersama keluarga menikmati hawa udara yang sejuk yang ada di bukit ini.
Sejarah Nama Bukit Gombel
Menurut warga sekitar nama Tabanas diambil dari adanya Tugu Tabanas yang cukup tinggi menjulang di kawasan tersebut. Selain nama Taman Tabanas, kawasan ini juga dikenal sebagai Gardu Pandang Gombel, karena dari tempat inilah kita bisa melihat ke seluruh pelosok kota semarang dengan keindahanya.
Di waktu malam hari jumlah pengunjung yang  datang akan semakin lebih banyak, terutama lagi jika malam minggu tiba atau pun hari libur. Kawasan Taman Tabanas menjadi salah satu tujuan utama saat perayaan malam tahun baru.
Pada saat malam tahun baru tiba tempat ini pasti ramai sekali oleh pengunjung sampai sampai tempat bukit ini di penuhi dengan orang orang yang merayakan tahun baru tersebut bahkan tempatnya sampai tidak muat. Dari lokasi ini semua kembang api bisa terlihat, wajar kalau banyak orang yang datang kesini.
Pemandangan kelap kelip dari kota Semarang di waktu malam hari adalah menjadi alas an semua pengunjung yang datang ke Taman Tabanas ini.
Sekedar bersantai, minum kopi, menikmati pemandangan yang bagus nan indah mempesona, dari tempat ini pula akan kelihatan semua Kota Semarang, selain itu udaranya juga sangat sejuk menyegarkan.
Kuliner di Bukit Gombel
Jika rasa lapar sudah datang, pengunjung tidak perlu khawatir karena kuliner malam hari yang cukup populer tersedia di sini, seperti pisang bakar, kopi hangat, roti bakar dan jagung bakar. Menikmati hangatnya roti bakar dengan memandangi Kota Semarang di malam hari adalah kenikmatan yang tiada tara.
Anda ingin menikmati hidangan ala resto pun juga bisa anda lakukan. Di kawasan ini terdapat beberapa restoran yang cukup besar. Selain hidangan lezat, resto-resto ini juga menawarkan keindahan Kota Semarang dari ketinggian.
Jika ingin bersantai dengan secangkir kopi hangat dan lezatnya jagung bakar, tidak perlu khawatir mematok harga yang mahal. Secangkir kopi hangat dijajakn dengan harga Rp 7.000. Untuk makanan mulai jagung bakar hingga nasi goreng berkisar Rp 8.000 – Rp 14.000.

Saturday, June 10, 2017

Hutan Wisata Tinjomoyo, Wisata Eksotis di Semarang

Hutan Tinjomoyo, Wisata Eksotis
Di semarang terdapat sebuah lokasi yang sangat nyaman untuk di jadikan tempat berekreasi bersama orang orang tercinta yaitu kawasan hutan Tinjomoyo. Hutan Tinjomoyo di Semarang ini adalah gabungan dari bukit, sungai dan juga hutan yang mana hutan tersebut banyak di isi oleh pepohon jati dan juga pinus, memang Kedua tumbuhan tersebut sangat cocok untuk mengisi kawasan hutan seperti wisata hutan Taman Tinjomoyo.

Sejarah Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang
Dulunya hutan ini adalah lokasi yang terkenal dengan sebutan kebun binatang, karena memang di lokasi ini banyak sekali berbagai jenis hewan yang hidup di area ini, saking banyaknya hewan yang hidup dengan bebas di kawasan ini maka masyarakat sekitar menyebutnya sebagai kebun binatang. Sekitar tahun 2006 wilayah ini terkena dampak banjir besar yang datang dari kali garang, akibat dari banjir tersebut mengakibatkan putusnya jembatan yang menghubung jalan ke pintu masuk hutan.
Dari kejadian tersebut membuat obyek wisata hutan ini menjadi kurang menarik dan akses yang begitu sulit untuk sampai di area hutan membuat wisata ini semakin tertinggal, dan juga dengan bertambahnya bahaya yang lain, disebabnya kawasan ini menjadi labil akan longsor yang setiap saat bisa mengintai para pengunjung.
Akhirnya pemerintah Pemkot Semarang mencarikan solusi untuk mengatasi masalah yang di rasakan para pengunjung dan keluhan atas sulitnya akses jalan dan juga rusaknya habitat hewan yang ada. Kemudian setelah beberapa waktu, akhirnya Pemkot Semarang memutuskan untuk memindahkan kebun binatang yang ada dilokasi ini ke daerah Mangkang, dan sekarang kawasan ini menjadi hutan yang hijau dengan pepohonan jati dan pinus yang menghiasi kawasan ini.
Selain dihiasi oleh tumbuh-tumbuhan, di kawasan ini juga menjadi tempat yang begitu nyaman bagi 240 jenis spesies burung, dan juga terdapat beberapa macam hewan langka yang berada disini. Hewan langka yang berada di kawasan Taman Tinjomoyo Semarang contohnya Elang Jawa, mereka melakukan migrasi dari Asia Utara menuju ke kawasan ini sekitar bulan Maret-April.

Lalu pada bulan Oktober sampai dengan November, mereka berusaha untuk kembali lagi kedaerah asalnya. Selain burung Elang Jawa, masih banyak terdapat berbagai spesies langka lainnya. Seperti adanya burung Kepodang yang menjadi ikon dari Jawa Tengah, serta juga terdapat Elang Ular Bido.
Kawasan Tinjomoyo Semarang, memiliki luas sekitar kurang lebih 57 hekter, di dalamnya terdapat berbagai macam wahaya yang di manfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber perekonomian.
Aneka Wahana Terdapat Hutan Tinjomoyo Semarang
Aneka Wahana juga terdapat di area hutan ini yang begitu beragam dan banyak jumlahnya. Semua wahana yang terdapat disini dapat pengunjung gunakan untuk memuaskan hasrat yang mengganggu di pikiran selama ini, tentu sangat menyenangkan bermain berbagai wahana bersama keluarga dan juga teman karib dengan pemandangan yang sangat mempesona.
Antara lain birds watcing, flying fox, outing activity, combat game, outbond dan camping ground. Semua wahana tersebut tentunya terlahir berkat ada dukungan dari alam yang mempesona di dalam wilayah Hutan Tinjomoyo ini. Berlokasi di lahan yang datar membuat Hutan Tinjomoyo ini sangat cocok untuk dijadikan tempat wahana yang beragam itu. Selain beberapa wahana tadi, disini para wisatawan juga dapat menyusuri sungai tentu dengan background yang tak kalah menariknya.
Selain terdapat wahana darat dan air, ternyata di hutan ini terdapat juga tempat yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang datang ke sini, terkhusus bagi para pecinta fotografi. Reruntuhan jembatan yang terkena bencana banjir pada tahun 2006 silam adalah menjadi tempat yang banyak di tuju oleh pecinta fotografi, suasananya sangat terlihat begitu alami didukung dengan lingkungan hutan Taman Wisata Tinjomoyo yang masih asri dan sangat indah akan membuat pengunjung semakin terpana dengan pemandangan yang ada.
Pemilihan kawasan hutan ini menjadi tempat wisata untuk menghabiskan liburan anda adalah pilihan yang tepat. Terlebih bagi anda yang mencari wisata alam. Namun tetap ingin bisa menikmati berbagai macam wahana yang menyenangkan bersama orang-orang tersayang.
Tak terlepas dari itu semua, Hutan Tinjomoyo juga menjadi pilihan wisata alam yang punya hobi fotografi, disini juga terdapat obyek-obyek atau wahana wahana yang begitu spesial. Pasti anda akan mendapatkan sesuatu yang lain dari yang lain, dan sama sekali tidak akan anda dapatkan ditempat lain.
Alamat Hutan Wisata Tinjomoyo
Wilayah Taman Wisata Tinjomoyo berada di selatan dari kota Semarang. Yakni berjarak sekitar kurang lebih 7 km dari pusat Tugumuda. Atau lebih tepatnya berada didepan daerah kampus Unika Soegijapranata Semarang.
Lokasi Wisata Hutan Tinjomoyo
Mengunjungi Taman Wisata Tinjomoyo ini, anda bisa melaluinya dengan menempuh perjalanan menggunakan kendaraan umum, maupun kendaraan pribadi. Baik itu dari arah daerah Sampangan, ataupun dari Jatingaleh. Area Taman Wisata Tinjomoyo ini berada di depan kampus Unika Soegijapranata Semarang.
Jam Buka Wisata Hutan Tinjomoyo
Wisata hutan ini dibuka mulai dari jalam 07.00 hingga sampai menjelang magrib sekitar jam 18.00 WIB.
Tiket Masuk Hutan Wisata Tinjomoyo
Tarif yang dipatok oleh pihak pengelola Taman Wisata Tinjomoyo ini, tidaklah mahal. pengunjung hanya perlu membayar biaya masuk kedalam kawasan yang berada dihutan ini sebesar Rp. 3.000 saja. Dengan harga segitu, pengunjung dapat mengelilingi kawasan Taman Wisata Tinjomoyo. Sekaligus menikmati keindahan alam yang terdapat didalamnya bersama orang-orang tersayang.

Friday, June 9, 2017

Jalan Pahlawan di Semarang, Tempat Tongkrongan yang Menyenangkan

Jalan Pahlawan Semarang, Tempat yang Ramai Pengunjung
 Jalan Pahlawan Semarang sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga para pemuda pemudi yang biasanya menghabiskan malam minggu atau pun saat hari libur di tempat tempat keramaian seperti ini, jalan Pahlawan semarang ini adalah salah satu yang menjadi faforit anak muda dan tempat ini biasanya penuh hingar bingar anak muda ketika malam minggu. Meskipun lampu penerangan jalan dan gedung pemerintahan mati pun akan tetap ramai di kunjungi remaja remaja, walaupun hanya menyisakan lampu hias untuk penanda trotoar atau pembatas jalan yang menyala.

Jalan Pahlawan tampaknya menjadi tempat favorit bagi warga Semarang untuk menikmati akhir pekan. Bagaimana tidak, setiap Sabtu malam di sepanjang ruas jalan ini selalu penuh dibanjiri warga. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua menemani anaknya atau memang sengaja datang untuk bermalam minggu
Saat malam tiba di kawasan Jalan Pahlawan ini akan penuh dengan pengunjung, meski gelap pun akan masih banyak terlihat kumpulan komunitas yang kumpul menikmati gemerlap lintang di langit yang indah, begitu juga pedagang jagung serut dan lain lainya pun tidak mau ketinggalan untuk tetap ikut andel dalam menikmati gelapnya kawasan jalan pahlawan dengan melihat indahnya bintang di langit sambil menjajakan dagangannya masing masing. Gedung Polda Jateng di ujung Jalan Pahlawan pun tidak seterang seperti biasanya.
Jalan Pahlawan sangat ramai di kunjungi berbagai kalangan biasanya setiap malam minggu digunakan untuk pusat kegiatan. Mulai dari kumpul komunitas, pacaran, sampai kumpul keluarga.
Sementara itu di wilayah semarang ada kegiatan mematikan lampu pada malam hari untuk program penghematan listrik yaitu di beberapa ruas jalan yang dimatikan lampu penerangannya yaitu Jalan Pahlawan, Simpang Lima, Pandanaran, Jalan Pemuda, dan Tugu Muda. Wali Kota Semarang.
Tak heran jalanan di sepanjang jalan pahlawan padat merayap dipenuhi kendaraan jika akhir pekan tiba. Selain karena letaknya yang dekat dengan Simpang Lima, Jalan Pahlawan ramai karena menjadi pusat perkantoran pemerintah. Hampir seluruh kantor penting seperti kantor gubernur dan DPRD Jawa Tengah, Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Perum Perhutani, BPS Jateng, hingga Polda Jateng berlokasi di jalan yang biasa disebut sebagai daerah gubernuran ini.

Kegiatan Car Free Day di Jalan Pahlawan Semarang
pengunjung tidak hanya bisa menikmati Jalan Pahlawan dimalam atau sore hari. Setiap Minggu pagi di Jalan Pahlawan ini juga diberlakukan Car Free Day yaitu mulai pukul 05.00-09.00 WIB. Jalanan lurus dan lebar ini pun berubah menjadi area bermain keluarga dan dipenuhi oleh komunitas sepeda onthel.
Bagi anda yang punya niat untuk berkunjung ke Semarang, Jangan lupa untuk menikmati akhir pekan di Jalan Pahlawan.
Kuliner di Jalan Pahlawan Semarang
Pada hari hari biasa, Jalan Pahlawan ini mulai ramai sekitar pukul 18.00 WIB. Aneka kedai makanan dan minuman seketika membuat Jalan Pahlawan menjadi tujuan wisata baru pada malam hari. Lain halnya dengan akhir pekan, sekitar pukul 16.00 WIB biasanya muda-mudi atau keluarga akan memadati sudut jalan ini. Beragam kegiatan dilakukan disini, dari membeli serba-serbi makanan khas Semarang, bermain in line skate, menyaksikan berbagai komunitas berunjuk gigi, atau hanya duduk santai menikmati suasana yang semakin malam akan semakin ramai.
Diantara pengunjung yang memadati wilayah ini, pada akhir pekan biasanya juga dimanfaatkan para mahasiswa untuk menggalang dana di kawasan ini. Mulai dari mengamen, menjajakan makanan, hingga ngawul (berjualan baju bekas) pun dilakukan. Keuntungan yang mereka dapat biasanya digunakan untuk bakti sosial atau mendukung kegiatan kampus. Mengenai harga, tidak perlu khawatir karena semua yang dijual disini tidak akan membuat kantong anda kempes.


Kampung Pecinan ChinaTown di Semarang

Kampoeng Pecinan Semarang
Berbicara kota Semarang tidak bisa pisah dari  kata pecinan. Sebab mulai sejak berdirinya kota ini di abad ke-6, orang-orang Tionghoa sudah berniaga dan menetap di wilayah pelabuhan yang dulunya bernama Pergota ini. Kota Semarang memiliki peninggalan sejarah yang berhubungan dengan orang-orang Tionghoa. Kelenteng (Masjid) Sam Po Kong dan pecinan Semarang dengan kelenteng-kelengtengnya adalah dua contoh peninggalan yang menjadi saksi bahwa masyarakat Tionghoa sudah ada di Kota Semarang.

memasuki kawasan pecinan (Chinatown) di Semarang ibaratnya masuk di lokasi 1001 klenteng. Kota Semarang mempunyai 11 klenteng besar dan 10 di antaranya terdapat di kawasan pecinan, yaitu Klenteng Siu Hok Bio, Hoo Hok Bio, Kong Tik Soe, Tay Kak Sie, Tong Pek Bio, Liong Hok Bio, Tek Hay Bio, Wie Wie Kiong, See Hoo Kong, dan Klenteng Grajen. Sedang Klenteng Sam Poo Kong berada di Gedung Batu. kesemua klenteng itu mempunyai nilai legenda dan keunikan tersendiri.
Klenteng Siu Hok Bio berada di Jalan Wot gandul Timur yang merupakan klenteng tertua di kawasan pecinan Semarang. Klenteng ini didirikan tahun 1753 oleh warga Pecinan Lor sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diterima oleh penduduk sekitar Cap Kauw King. Klenteng ini masih mempunyai warisan yang berusia nisbiah kuno yaitu berupa cincin pegangan pintu dan ukiran pada ambang atas pintu klenteng.
Ada Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, merupakan klenteng induk bagi seluruh klenteng yang ada di Semarang. Selain menjadi monumen perlawanan masyarakat Cina terhadap penjajahan Belanda, klenteng ini juga menjadi simbol perlawanan masyarakat Cina terhadap kecurangan saudagar Yahudi yang menguasai Klenteng Sam Poo Kong.
Satu lagi klenteng besar di Jalan Sebandaran I adalah Klenteng See Hoo Kiong. Berbeda dengan klenteng lain yang memuja dewa-dewi pelindung, klenteng ini memuja Dewa Pedang. Keunikan klenteng ini adalah memiliki sumur yang terletak di halaman depan yang menurut legendanya merupakan tempat ditemukannya pedang yang saat ini dipuja.
Salah satu klenteng besar yang merupakan klenteng marga adalah Klenteng Tek Hay Bio. Klenteng yang berada di Jalan Gang Pinggir ini kepunyaan marga Kwee. Tek Hay Bio dapat diartikan sebagai Kuil Penenang Samudera sehingga klenteng ini disebut juga sebagai Klenteng Samudera Indonesia, dan peran ini diperlihatkan dalam ornamen dengan dominasi unsur laut.

pengunjung bisa menyimak ulasan berikut sebelum melangkahkan kaki ke gang-gang yang ada di kampung Pecinan. 
Pengunjung bisa masuk melalui pintu gerbang, menyusuri Gang Warung, Gang Lombok, Gang Pinggir, menyeberang ke Wot Gandul, menikmati pasar pagi di Gang Baru, memotong Gang Cilik, balik melalui Gang Gambiran. Setelah itu kemudian melompat ke Petudungan yang tempatnya lebih dekat ke Gang Lombok dan kemudian melompat lagi ke Sebandaran yang letaknya persis berada di samping Wot Gandul sebab di Petudungan pengunjung akan bisa menikmati wayang potehi dan barongsay. Sedangkan di Sebandaran pengunjung bisa mengunjungi dua kelenteng yang tersisa dari 10 keleteng yang ada di wilayah pecinan ini.
Ada dua kelenteng yang menarik karena menggambarkan akulturasi budaya. Kelenteng Tek Hay Bio adalah kelenteng untuk memuja dewa lokal bernama Kwee Lak Kwa. Kwee Lak Kwa adalah seorang pemimpin Tionghoa yang berperang melawan Belanda. Saat perlawanan melemah Kwee Lak Kwa kemudian menghilang. Sejak itu banyak nelayan yang melihat Kwee Lak Kwa di laut dan selalu menolong para nelayan yang mengalami kesulitan di laut. Dewa Kwee Lak Kwa yang selalu ditemai oleh seorang Nepal dan seorang Jawa hanya dikenal di pesisir Jawa bagian utara saja. Satu lagi kelenteng yang menggambarkan akulturasi budaya adalah kelenteng Hwie Wie King yang terletak di Sebandaran. Kelenteng milik keluarga Tan ini bergaya  Eropa. Sebab para pendirinya memang dekat dengan orang Belanda.
Kuliner di Komplek Pecinan Semarang
Jika anda suka wisata kuliner, Pasar Semawis adalah tempatnya. Pasar kuliner yang dibuka di wilayah Pecinan ini menyajikan makanan-makanan khas Tionghoa dan makanan Jawa. Anda bisa menikmati sambil berkaraoke. Lunpia Gang Lombok adalah tempat kuliner yang tak boleh dilewati. Lunpia yang racikannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Semarang, ini adalah hasil akulturasi citarasa Tionghoa-Jawa. Ada lagi kue bulan dan Pia di Gang Pinggir. Atau kalau anda penggemar wedang, tersedia juga wedang kacang di Wot Gandul. Cicipilah berbagai suguhan wedang di Warung Wedang Cap Kauw King.
Selain menikmati keindahan klenteng yang dibangun ratusan tahun lalu anda juga bisa menikmati suasana kehidupan masyarakat Tionghoa yang masih menjunjung tinggi tradisi. Belum lagi masakan khas Cina yang bisa dinikmati di beberapa rumah makan yang ada di kawasan ini.
Souvenir ala Komplek Pecinan Semarang
Bagi wisatawan yang suka kerajinan tangan, Pecinan Semarang memberikan suguhan Chinese Painting dan Kaligrafi Tan Eng Tiong di Gang Warung, kerajinan Rumah Kertas Ong Bing Hok di Gang Cilik, kerajinan Batu Bong Pay di Gang Gambiran, Wayang Potehi di Petudungan dan keray di Sebandaran. Khusus untuk wayang potehi dan barongsay, kalau kita beruntung kita juga bisa menyaksikan pertunjukannya.
Obat-obatan herbal di Komplek Pecinan Semarang
Jika anda adalah wisatawan yang suka dengan perniagaan dan obat tradisional, Pasar Pagi di Gang Baru dan Toko Obat Toen Djin Tong bisa menjadi tujuan anda. Pasar Gang Baru adalah pasar tradisional yang tercipta karena kebutuhan. Saat Belanda melarang orang-orang China keluar dari pemukiman, maka para pedagang pribumi membawa dagangannya ke Gang Baru. Itulah sekelumit sejarah pasar pagi Gang Baru yang menyajikan berbagai keperluan dapur sehari-hari. Sedangkan Toko Obat Toen Djin Tong yang telah berdiri sejak tahun 1800 masih tetap diserbu pengunjung untuk mendapatkan obat-obat tradisional China.

Thursday, June 8, 2017

Museum Mandala Bhakti, sejarah perjuangan tentara Indonesia

MUSEUM MANDALA BHAKTI Semarang
Jika anda sedang berada di kota Semarang jangan cuma sekedar berwisata di satu tempat, justru sempatkan waktu anda untuk mengunjungi tempat tempat yang menyenangkan seperti tempat hiburan, taman, bangunan tua dan lain sebagainya. Dan lebih baik lagi jika anda juga berkunjung sambil mengenal sejarah perjuangan bangsa, yaitu dengan mengunjungi Museum Mandala Bhakti. Anda dapat berwisata sambil belajar sejarah di tempat ini, karena perlu diingat bahwa kota Semarang merupakan salah satu kota yang mempunyai nilai-nilai historis dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah.
Memasuki halaman bangunan ini, anda akan melihat sebuah prasasti besar yang bertuliskan Sapta Marga prajurit. Nampaknya hal inilah yang kemudian merepresentasikan isi dibalik bangunan klasik beratapkan genting ini.

Museum tersebut berhadapan langsung dengan Monumen Tugu Muda dan Lawangsewu. Jadi ketika anda berwisata ke Semarang, dalam satu tempat ini saja anda dapat mengunjungi tiga tempat wisata sekaligus.
Sebenarnya pada tahun 1930 bangunan ini bernama Raad Van Justitie (Gedung Pengadilan Tinggi) yang dikhususkan untuk golongan rakyat Eropa. Dan bangunan ini di arsiteki oleh arsitek handal dari Belanda yang bernama I. Kuhr E.
Dan di tahun 1950-an bangunan ini digunakan oleh Kodam IV/Diponegoro sebagai Markas Besar Komando Wilayah Pertahanan II. Kemudian pada tahun 1985, bangunan ini resmi digunakan untuk museum yang menyimpan arsip data, dokumentasi, dan persenjataan TNI baik yang tradisional maupun modern. Semua koleksi yang tersimpan dalam museum ini merupakan bukti fisik dan saksi sejarah perjalanan Kodam tersebut terutama di Jawa Tengah. Seperti yang terjadi dalam peristiwa-peristiwa perjuangan seperti peperangan di Palagan Ambarawa, Perebutan Jogja Kembali, 4 hari di Solo, dan Peperangan 5 hari di Semarang.
Di dalam museum ini terdapat koleksi berbagai jenis senjata api yang digunakan TNI dalam pertempuran memperebutkan kemerdekaan, baik yang tradisional maupun yang sudah menggunakan teknologi. Selain itu, terdapat berbagai data dan dokumentasi yang menjelaskan tentang perjuangan Tentara Nasional Indonesia.

Bangunan Museum Mandala Bhakti ini mempunyai dua lantai yang mengarah ke arah Utara. Bangunan ini sangat kokoh dengan pondasi yang terbuat dari batu dan berdinding tebal berplester. Didalamnya terdapat serambi pada sepanjang sisi depan bangunan, baik pada lantai pertama maupun lantai kedua. 
Memasuki lantai dua, pengunjung akan disambut patung Panglima Besar Sudirman. Di belakang patung tersebut terdapat ruangan yang dulu difungsikan sebagai ruang pengadilan. Sementara disekitarnya terdapat berbagai lukisan yang menggambarkan sejarah pertempuran TNI lengkap dengan ornamen-ornamen bangunan khas Belanda
KOLEKSI MUSEUM Mandala Bhakti
Dan Salah satu koleksi yang sangat menarik adalah Meja Bedah Lapangan, yang masih tersimpan rapi di Museum ini. Meja Bedah Lapangan ini merupakan buatan Belanda pada tahun 1942, bentuk meja bedah yang portable ini pada waktu dulu digunakan untuk mengobati para pejuang yang terluka dan tidak tempat lain untuk beroperasi kecuali dengan meja tersebut.
Pada bagian lainnya, terdapat kendi besar bertuliskan "Kendi Manunggal TNI-Rakyat" tertanggal 5 Oktober 2003. Kendi itu menggambarkan perjuangan TNI yang tidak lepas dari dukungan rakyat. 
Dari jendela Museum Mandala Bhakti, pengunjung bisa melihat pemandangan diseputar Tugu Muda. Di seberangnya masih berdiri kokoh gedung perusahaan kereta api masa Hindia Belanda yang kini lebih dikenal dengan Lawang Sewu. Dibagian lain pengunjung akan melihat gedung Pandanaran yang saat ini digunakan oleh Pemerintah Kota Semarang. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa.
Alamat Museum Mandala Bhakti
Bangunan Museum Mandala Bhakti ini terletak di Jalan Soegijapranata No.1, berdekatan dengan Jalan Pandanaran yang seringkali kita kenal dengan pusat oleh-oleh Semarangan.
Jam Buka Museum Mandala Bhakti
Untuk mengunjungi Museum Perjuangan Mandala Bhakti ini harus datang pada jam-jam kerja, yakni mulai dari hari Senin sampai Jumat pukul 08.00 – 14.00. Untuk hari Sabtu dan Minggu, museum Mandala Bhakti ini di tutup atau libur tetapi kalau ada permintaan dari pihak ketua rombongan bahwa akan ada kunjungan wisata rombongan ke pihak pengelola Museum, maka kunjungan tersebut akan tetap akan dilayani.
Tiket Masuk Museum Mandala Bhakti
Pengunjung yang datang ke Museum ini sama sekali tidak dikenai tiket, kecuali untuk para rombongan wisata yang berkunjung dan ingin memberikan bantuan dana secara sukarela.

Wednesday, June 7, 2017

menggali sejarah lewat Museum MURI di semarang

MUSEUM REKOR DUNIA INDONESIA (MURI) DI SEMARANG
Semarang mempunyai bermacam macam museum yang menjadi pilihan para wisatawan, salah satu yang banyak di kunjungi adalah Museum Rekor Dunia Indonesia atau biasanya disebut (MURI). masyarakat Semarang boleh berbangga diri karena Museum (MURI) hanya ada di Kota Lumpia ini.
Museum MURI ini didirikan atas prakarsa Jaya Suprana di kawasan industri Jamu Jago Srondol, Semarang pada 27 Januari 1990. Diresmikan oleh para pejabat saat itu, yaitu Menko Kesra Soepardjo Roestam dan Menko Polkam Soedomo. Disaksikan pula oleh Ketua PMI Pusat Ibnu Soetowo dan Gubernur Jawa Tengah, HM Ismail.

Tujuan pembangunan Museum (MURI) murni untuk pengabdian bangsa indonesia dengan menghimpun data data rekor superlatif yang di peroleh anak Indonesia atau dibuat oleh putera puteri bangsa ini, sebagai inspirasi penggugah semangat anak anak bangsa Indonesia yang akan datang untuk selalu berjuang mempersembahkan karsa dan karya yang terbaik di bidang keahlian masing-masing.
Pembangunan MURI merupakan lembaga pertama di Indonesia yang khusus menghimpun data data rekor superlatif di Indonesia. Pendirian dan pelaksanaan kegiatan MURI didukung sepenuhnya oleh kelompok usaha Jamu Jago.
Ternyata sambutan masyarakat luar biasa antusiasnya terhadap dirikannya MURI hingga praktis setiap hari terjadi peristiwa penciptaan maupun pemecahan rekor di berbagai kota besar sampai pedesaan Indonesia yang diberitakan secara nasional maupun internasional.
Gedung MURI dibangun di kawasan industri Jamu Jago, Srondol Semarang. Luas ruang sekitar 600 m2 terdiri dari ruang ekshibisi data dan foto MURI, balai pertemuan dan ruang eskhibisi Museum Jamu Jago yang menampilkan foto foto dan benda benda bersejarah perusahaan Jamu Jago yang didirikan pada tahun 1918 di desa Wonogiri, Jawa Tengah oleh TK Suprana.
Berkunjung ke Museum (MURI) akan dapat menggugah setiap pengunjungnya untuk selalu bersemangat dalam segala bidang dan terlebih bisa mencetak rekor dunia dan sekaligus akan membawa nama baik Negara dan juga keluarga.

Wisata Museum
Mayoritas dokumentasi dipajang dalam bentuk foto di papan kaca yang di pajang memenuhi dinding bangunan.
Jumlah foto yang di pajang mencapai sekitar 1.000 foto. Jumlah tersebut tentu lebih sedikit dari koleksi sebenarnya yang mencapai lebih dari 6.500 foto bukti pemecahan rekor.
Agar semua bisa diketahui oleh masyarakat, pihak pengelola mengganti foto foto yang dipajang itu setiap dua bulan sekali.
Di antaranya, pemecahan rekor pemakaian baju adat dayak terbanyak, pembuatan replika jeruk raksasa dari ribuan jeruk asli, juga insan tertinggi semua ada di Museum ini.
Apabila setelah mengunjungi Museum (MURI) ini pengunjung ada niat agar namanya tercantum di dinding bangunan Museum ini, maka silahkan terlebih dahulu anda membuat rekor dunia dari bidang yang anda mampu nanti nama anda anda akan terukir di sudut dinding bangunan Museum tersebut.
Di museum ini, catatan sejarah itu semuanya bisa anda lihat.
Catatan sejarah itu didokumentasikan dan tersimpan di lantai dua sebuah gedung di lingkungan Pabrik Jamu Jago, Kota Semarang ini.
Alamat Museum Rekor Dunia Indonesia MURI
Bangunan Museum Rekor Dunia Indonesia ( MURI ) ini berada di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 275, Srontol, Semarang
Telp      : (024) 7475172
Museum Rekor Dunia Indonesia atau MURI (dahulu Museum Rekor Indonesia) adalah sebuah museum yang terletak di Semarang, Indonesia. Museum ini merupakan tempat dicatatnya data prestasi superlatif yang terjadi di Indonesia. Didirikan tanggal 27 Januari 1990 oleh Jaya Suprana bersama dengan PT.Jamu Jago, museum ini sudah mencatat lebih dari 1200 rekor hingga Juli 2005. 
Berbarengan dengan peresmian galeri MURI di kawasan wisata candi Borobudur (14-08-2005), dilakukan perubahan kepanjangan Muri yang semula Museum Rekor Indonesia menjadi Museum Rekor Dunia Indonesia.
Jam Buka Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)
Museum ini di buka setiap jam kerja yaitu hari Senin sampai Jumat, mulai pukul 09.00 – 14.00. untuk kunjungan yang membawa rombongan turis, siswa sekolah, lembaga disarankan membuat reservasi terlebih dahulu untuk kunjungan selambat lambatnya dua minggu di muka dengan terlebih dahulu menghubungi pihak MURI.
Tiket Masuk Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)
Untuk masuk di lokasi bangunan Museum Rekor Dunia Indonesia ini pengunjung tidak di pungut biaya sama sekali alias gratis. Anda bisa menggali lebih dalam tentang sejarah dan prestasi prestasi yang pernah di raih Negara Indonesia tanpa mengeluarkan biaya, sungguh kunjungan yang sangat bermanfaat.